Desa Banjarsari di Bekasi Pertahankan Areal Pertanian

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Desa Banjarsari, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, memiliki kebijakan melarang pendirian perumahan dan lainnya. Hal tersebut guna mempertahankan areal pertanian di wilayahnya.

Saat ini ada 558 hektare hamparan lahan yang tetap dipertahankan di Desa Banjarsari, Sukatani. Kepala desa setempat tegas tidak mengizinkan pembangunan apa pun terutama perumahan karena ingin  tetap mempertahankan sawah sebagai ketahanan pangan.

“Mayoritas warga Banjarsari, mengandalkan penghasil dari bertani sawah. Jika digusur jadi lahan perumahan, maka semua akan berubah seperti di desa lainnya yang sudah terjadi,” ungkap Adam Kaur Pemerintahan Desa Banjarsari, Sukatani ditemui Cendana News di kantor desa, Senin (21/12/2020).

Adam, Kaur Pemerintah Desa Banjarsari, ditemui Cendana News di kantor desa, Senin (21/12/2020). -Foto: M. Amin

Dikatakan, dari 7 desa di wilayah Kecamatan Sukatani, hanya desa Banjarsari yang masih bertahan sampai sekarang. Adam menegaskan bahwa mempertahankan areal pertanian dengan melarang adanya perumahan adalah kebijakan kepala desa.

Namun demikian jelasnya, semua warga mendukung kebijakan tersebut bahkan LP2B (Penyediaan Pangan lahan pertanian dan pangan berkelanjutan) pernah datang mendukung kebijakan Desa Banjarsari. Dalam satu tahun, sawah panen hanya dua kali karena keterbatasan irigasi yang harus bergiliran dengan desa lainnya.

“Larangan untuk dibangun perumahan di desa Banjarsari, memang baru sebatas kebijakan kepala desa secara lisan. Memang belum ada Peraturan Desa-nya,” ungkap Adam, berharap bisa bertahan selamanya.

Desa Banjarsari, saat panen raya kerap dihadiri para pejabat dari Jakarta untuk ikut panen raya. Biasanya dari ketua partai politik besar kerap hadir.

Rendi, Operator Desa Banjarsari, menambahkan bahwa kalangan pengusaha kerap datang untuk melakukan pembangunan di wilayah. Tapi kepala desa tegas, melarang hingga investor ragu, untuk berinvestasi membangun perumahan di wilayah desa.

“Kalo pengusaha banyak yang melirik, karena banyaknya areal persawahan yang memiliki tempat yang datar dan berpotensi, Alhamdulillah kepala desa tegas menolak. Dan itu mendapat dukungan dari warganya,” ungkap Rendi.

Lebih lanjut dia mengatakan untuk hasil panen petani di Desa Banjarsari sudah memiliki tempat sendiri yang biasa mengambil hasil panen yang datang dari berbagai tempat seperti Karawang dan lainnya.

Petani di Desa Banjarsari, bisa dikatakan seratus persen bertani padi. Hanya sedikit diselingi sayuran. Begitupun pupuk, bibit dan lain cukup mendapat perhatian dari  Pemerintah Kabupaten Bekasi.

“Sarana pertanian di sini cukup lancar karena desa juga, memiliki Gapoktan yang intens dibina oleh kepala desa. Jadi tidak ada keluhan soal bibit, pupuk dan lainnya,”papar Rendi.

Lihat juga...