Desa Cerdas Mandiri Lestari Bangun Perekonomian Masyarakat Argomulyo

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Fokus utama program Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML) Yayasan Damandiri adalah menurunkan angka kemiskinan dan menyejahterakan masyarakat pedesaan secara mandiri dan bermartabat. Karenanya, angka kemiskinan menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan program tersebut, yang ditargetkan tercapai dalam waktu tiga tahun.

Di desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, dalam kurun waktu empat tahun pelaksanaan program tersebut, tercatat angka kemiskinan menurun signifikan hingga lebih dari 45 persen. Namun, pandemi Covid-19 yang melanda pada tahun ini sedikit mengubah persentase penurunan angka kemiskinan itu.

Gatot Nugroho, Ketua sekaligus Manajer Umum Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera Argomulyo selaku pelaksana program DCML Argomulyo, menyebut saat awal dicanangkan pada 2017, jumlah warga miskin di Argomulyo sebanyak 512 KK. Sementara pada akhir 2019, jumlah warga miskin menurun drastis menjadi 233 KK.

Gatot Nugroho, Ketua sekaligus Manajer Umum Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, -Foto: Jatmika H Kusmargana

“Hanya saja memang pada tahun ini sebagai dampak pandemi Covid-19, jumlah warga miskin kembali meningkat. Ini jika dilihat dari indikator jumlah warga penerima program bantuan sosial dari pemerintah. Baik itu karena di-PHK dari tempat bekerja, kehilangan usaha, atau tidak bisa bekerja, dan sebagainya,” katanya kepada Cendana News, belum lama ini.

Meski demikian, Gatot menyebut program DCML di desa Argomulyo selama kurang lebih 4 tahun ini, secara langsung memberikan banyak kemajuan dan kontribusi positif bagi seluruh warga masyarakat.

Gatot menjelaskan, sejak awal pencanangan DCML, Yayasan Damandiri melalui Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera Argomulyo, membangun sektor ekonomi dengan memaksimalkan potensi desa, yaitu pariwisata. Memorial Jenderal Besar HM Soeharto di dusun Kemusuk, Argomulyo, menjadi ikon utama dan strategis dari upaya tersebut.

“Pada awal pencanangan itu, rumah-rumah warga kurang mampu dibedah, dijadikan homestay untuk mendukung kepariwisataan di Argomulyo,” kata Gatot.

Menurut Gatot, melalui program bedah rumah itu sebanyak 10 rumah warga kurang mampu dibangun menjadi homestay, lengkap dengan sejumlah fasilitasnya. Sayangnya, unit usaha homestay ini belum bisa berjalan maksimal.

Selain persoalan lokasi pembangunan homestay yang kurang strategis, hingga minimnya kualitas SDM pengelola homestay, dampak pandemi Covid-19 sepanjang 2020 juga menjadi hambatan utama pengembangan unit usaha homestay di Argomulyo.

“Padahal, pada kurun 2018-2019, sejumlah warga sebenarnya telah mampu mendapatkan keuntungan berupa penghasilan tambahan dari penyewaan homestay hingga Rp2-3 juta per bulan,” kata Gatot.

Guna mempercepat pengentasan kemiskinan dan berputarnya roda perekonomian, yayasan yang didirikan oleh HM Soeharto tersebut menginisiasi didirikannya Warung Kita atau Warung Damandiri.

“Warung ini menjual berbagai kebutuhan bagi pelaku usaha di desa Argomulyo. Sekaligus menopang keberadaan objek wisata di Argomulyo,” kata Gatot.

Namun sayangnya, kata Gatot, karena sejumlah kendala termasuk dampak luar biasa Covid-19 sepanjang 2020, omzet unit usaha Warung Damandiri mengalami penurunan. Omzet Warung Damandiri Argomulyo pada penghujung tahun ini tercatat Rp3,8 juta per bulan. Menurun dari saat awal pertama kali didirikan pada 2017 yang sebesar Rp7,7 juta per bulan. Meskipun sebenarnya pernah meningkat hingga mencapai Rp10-15juta per bulan pada periode 2018-2019.

Lihat juga...