Di Aceh, Pelanggar Prokes Paling Banyak Pria

Satgas COVID-19 mengawasi pelanggar protokol kesehatan yang mendapatkan sanksi menyapu jalan di kawasan wisata pantai Ulee Lheue, Banda Aceh, Aceh, Minggu (13/12/2020) – Foto Ant

BANDA ACEH – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Aceh menyatakan, pria paling banyak melanggar protokol kesehatan (Prokes) berupa memakai masker. Hal tersebut memperhitungkan jumlah mereka yang terjaring dalam operasi yustisi sejak September 2020.

“Sejak operasi yustisi digelar awal September 2020 hingga kemarin, yang lebih banyak terjaring selalu laki-laki,” kata Juru Bicara Satgas COVID-19 Aceh, Saifullah Abdulgani, Senin (14/12/2020).

Operasi digelar oleh Satpol PP dan WH Aceh, dibantu jajaran TNI dan Polri. Lokasi operasi di jalan raya, warung kopi atau cafe yang ada di wilayah Kota Sabang, Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Sejak operasi yustisi digelar di September hingga November 2020, tercatat sudah terjaring 10.088 pelanggar prokes. Mereka terdiri dari laki-laki sebanyak 8.456 orang atau 84 persen, dan perempuan 1.632 orang atau 16 persen.

Sementara di operasi pekan pertama Desember 2020, terjaring 883 orang, meliputi laki-laki 712 orang atau 81 pesen dan perempuan 19 persen atau 171 orang. Selanjutnya, periode 8 sampai 13 Desember, telah terjaring 841 orang, yakni laki-laki 691 orang atau 82,2 persen dan perempuan 150 orang atau 17,8 persen. “Trennya tampak konsisten, jumlah laki-laki yang terjaring selalu di atas 80 persen dari total pelanggar dalam setiap periode waktu operasi yustisi itu dilakukan,” jelasnya.

Data tersebut tidak serta-merta menunjukkan, perempuan lebih disiplin dibandingkan pria. Tetapi karena faktor laki-laki selalu lebih dominan berada di warung kopi atau kafe dibandingkan perempuan. Begitu juga untuk aktivitas di jalan raya.

Mereka yang terjaring, umumnya mendapat sanksi sosial di tempat. Seperti menyanyikan lagu nasional atau lagu daerah, membaca surat pendek Alquran bagi yang beragama Islam, atau diminta mengucapkan janji tidak akan mengulangi melanggar prokes.

Bentuk sanksi kerja sosial yang diberikan seperti membersihkan fasilitas umum, menyapu jalan, atau memungut sampah. Kerja sosial ini umumnya dikenakan kepada pelanggar protkes yang terjaring ketiga kalinya, katanya. “Pelanggaran prokes yang dilakukan semuanya tidak menggunakan masker,” tandas juru bicara yang akrab disapa SAG tersebut. (Ant)

Lihat juga...