Dinas Arahkan Perajin Tenun Khas Mentok Bidik Konsumen Menengah Bawah

MENTOK – Perajin tenun cual khas Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, diarahkan untuk membidik konsumen kelas menengah ke bawah untuk meningkatkan pemasaran kain tradisional tersebut.

“Selama ini, kain tenun tradisional khas daerah itu harganya terlalu mahal dan hanya bisa dibeli oleh kalangan menengah ke atas, sehingga kurang menguntungkan bagi perajin,” kata Kepala Bidang Industri Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian Kabupaten Bangka Barat Agus Setyadi di Mentok, Rabu (16/12/2020).

Ia menjelaskan, proses pembuatan satu setel bahan pakaian yang terdiri dari atasan dan bawahan kain tenun cual membutuhkan waktu produksi sekitar dua bulan.

Motif tenun cual Mentok memiliki motif beragam, detail dan tingkat kerumitan tinggi sehingga proses pengerjaan lama dan berpengaruh terhadap harga jual yang saat ini rata-rata Rp3,5 juta per lembar.

“Jika dilihat dari kualitas, harga tersebut pantas karena kain tenun cual halus dan indah, namun harga tersebut kurang ramah bagi sebagian besar wisatawan yang saat ini didominasi pelajar, mahasiswa dan keluarga,” katanya.

Untuk itu, Pemkab Bangka Barat melalui Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sedang berupaya membuat terobosan, agar tenun khas lokal itu bisa terjangkau konsumen kelas menengah ke bawah.

Pemberian bantuan alat tenun bukan mesin sekaligus pelatihan cara penggunaan alat, sudah dilakukan kepada kelompok perajin dengan harapan akan mampu memangkas waktu proses produksi.

Pelatihan membuat bahan baku benang motif juga sudah dilakukan, agar para perajin bisa membuat sendiri dan tidak perlu lagi membeli bahan baku dari Palembang, Sumatra Selatan.

“Selain itu, kami bersama kawan-kawan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan saat ini sedang menyiapkan beberapa desain motif lokal, yang nantinya akan diaplikasi dalam kain yang berukuran lebih kecil dari ukuran standar,” katanya.

Beberapa desain baru yang sedang disiapkan itu nantinya akan digunakan untuk kebutuhan pembuatan syal, selendang, taplak meja, dan lainnya agar harga jual lebih terjangkau.

“Perkiraan kami nantinya bisa dijual antara Rp70.000 hingga Rp250.000 per lembar kain, dengan ukuran kecil sebagai buah tangan. Harga ini cukup terjangkau untuk kalangan menengah ke bawah,” katanya. (Ant)

Lihat juga...