Dolar AS Melemah Lagi di Akhir Perdagangan

Ilustrasi - Uang rupiah dan dolar AS. (ANTARA)

NEW YORK – Dolar AS balik melemah dari tertinggi 10 hari pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), dalam minggu yang dipersingkat liburan, ketika investor melihat kekhawatiran tentang jenis baru virus Corona baru yang menyebar dengan cepat di Inggris telah mereda, dan berfokus pada paket stimulus AS yang akan dipilih oleh Kongres.

Para analis mengatakan, pergerakan volatil adalah tipikal saat ini ketika volume tipis. Sentimen pasar juga terbantu oleh pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang mencoba meredakan kekhawatiran tentang mutasi virus terbaru.

WHO mengatakan pada Senin (21/12/2020), mutasi virus Corona sejauh ini jauh lebih lambat dibandingkan dengan influenza, dan bahkan varian baru Inggris tetap jauh lebih tidak dapat menular daripada penyakit lain seperti gondongan.

Lembaga itu menambahkan, bahwa vaksin yang dikembangkan untuk memerangi Covid-19 harus menangani varian baru juga, meskipun pemeriksaan sedang dilakukan untuk memastikan hal ini.

“Ketenangan telah menang begitu orang menyadari, bahwa varian baru masih akan terpengaruh oleh vaksin yang saat ini digunakan,” kata Amo Sahota, direktur eksekutif di firma penasehat mata uang Klarity FX di San Francisco.

“Jika kasusnya vaksin tidak efektif terhadap varian ini, maka saya pikir situasinya sama sekali berbeda.”

Investor mulai lebih fokus pada RUU stimulus AS yang kemungkinan akan dipilih pada Senin (21/12/2020).

Dalam perdagangan sore, indeks dolar turun 0,2 persen menjadi 90,097. Minggu lalu, mata uang safe-haven greenback merosot ke posisi terendah dua setengah tahun, didorong oleh optimisme bahwa vaksin akan membantu menghidupkan kembali pertumbuhan global. Pada awal perdagangan, dolar naik ke puncak 10 hari di 91,022.

Euro melemah 0,2 persen menjadi 1,22331 dolar, setelah sebelumnya jatuh ke palung lebih dari satu minggu.

“Kami telah melihat beberapa gelombang buy-the-dip muncul di Eropa hari ini, dan kami pikir ini karena kemunduran hari ini adalah kontra-tren,” kata Erik Bregar, kepala strategi valas, di Exchange Bank of Canada di Toronto.

Sterling jatuh ke level terendah 10 hari terhadap dolar dan euro, saat obligasi dua tahun pemerintah Inggris turun ke rekor terendah. Perdana Menteri Boris Johnson, meminta tanggapan darurat terhadap krisis tersebut.

Pound sterling memangkas kerugian meskipun terhadap dolar diperdagangkan hanya 0,4 persen lebih rendah pada 1,3448 dolar, sementara euro naik tipis terhadap sterling dan terakhir naik 0,1 persen pada 90,85 pence.

Sementara Bitcoin jatuh 2,7 persen setelah mencapai rekor tertinggi 24.298,04 dolar pada Minggu. Mata uang virtual terakhir turun pada 22.844,18 dolar.

Total investor yang masuk ke dana dan produk mata uang kripto mencapai 5,6 miliar dolar sepanjang tahun ini, naik lebih dari 600 persen dari 2019, menurut data terbaru dari manajer aset CoinShares.

Dolar Australia dan Selandia Baru yang berisiko melemah pada awal pekan ketika investor bergegas mencari aset-aset yang aman.

Dolar Aussie turun 0,6 persen menjadi 75,80 sen AS, sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,6 persen menjadi 71 sen AS. Dolar AS sedikit berubah terhadap yen menjadi 103,34 yen. (Ant)

Lihat juga...