Doni Dorong Mahasiswa Gerakkan Kekuatan Bangsa Lewat Jalur Rempah

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Kendati bangsa Indonesia dikenal sebagai penghasil rempah yang berlimpah, namun ekspor rempah Indonesia pada 2020 belum maksimal.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Munardo, mengatakan data perdagangan Indonesia tahun 2020 mencatat hanya mengekspor rempah-rempah sebanyak 69 juta US$D.

“2020, kita cuma bisa ekspor rempah-rempah 69 juta US$D. Katakanlah ini satu triwulan dikali empat, jadi  baru hanya sekitar 1 miliar US$D saja,” ujar Doni, pada acara virtual kuliah umum tentang ketahanan pangan di Jakarta, Senin (28/12/2020).

Dia juga menyebut, International Trade Center (ITC) atau data perdagangan global mencatat khusus rempah-rempah Indonesia mencapai 51,3 miliar US$D. “Apa yang kita dapatkan itu belum maksimal,” tukasnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Munardo, pada acara virtual kuliah umum tentang ketahanan pangan di Jakarta, Senin (28/12/2020). -Foto: Sri Sugiarti

Maka, Doni mendorong masyarakat Indonesia, terutama mahasiswa pertanian untuk menggerakkan kekuatan bangsa Indonesia lewat jalur rempah.

“Ada jalur sutra, kita pernah mendengarnya. Tapi saya katakan, jalur sutra tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan jalur rempah,” tegasnya.

Karena, menurutnya rempah-rempah Indonesia masih bisa menguasai pasar global. Terbukti  banyak produk-produk farmasi dan kosmetik berbahan rempah hasil kekayaan alam Indonesia berkembang di banyak negara.Sehingga menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi.

“Tapi, bangsa kita hanya melepasnya atau menjual dalam bentuk bahan mentah rempah-rempah itu,” tandasnya.

Doni mendorong para mahasiswa pertanian di seluruh Indonesia harus mampu merancang sistem dan membangun tradisi dalam pemanfaatan rempah-rempah yang merupakan kekayaan alam Indonesia.

“Mahasiswa pertanian inovatif harus mampu merancang sistem, membangun tradisi. Jangan lagi ada rempah-rempah mentah yang dikirim ke luar negeri. Jadi harus dalam bentuk barang jadi, atau paling tidak 3/4 jadi. Sehingga nilai ekonominya akan tinggi,” ujarnya.

Rempah-rempah Indonesia, menurutnya menjadi catatan banyak bangsa di dunia. Terbukti sampai hari ini, ahli di bidang farmasi dan kosmetika masih mengandalkan bahan baku rempah yang berasal dari Indonesia.

“Ada Masoya, salah satu jenis pohon yang tumbuh Indonesia bagian timur, terutama di Papua dan Maluku. Kulit kayu masoya, ekstraknya itu cairannya yang disuling mencapai nilai jutaan rupiah per kilogram. Cairan masoya ini dibuat parfum berharga mahal,” ujarnya.

Selain itu, pohon cendana, gaharu dan jenis rempah lainnya dari Maluku bisa dijadikan sebagai obat dan kosmetik oleh para ahli dari bangsa lain.

Maka itu, Doni mengingatkan masyarakat agar mengoptimalkan potensi-potensi kekayaan alam Indonesia menjadi nilai yang lebih. Sehingga kehidupan para petani rempah bisa lebih sejahtera.

Kembali dia menegaskan, bahwa Indonesia sangat kaya dengan ragam jenis rempah-rempah hingga menjadikan Belanda sangat ambisius untuk menguasai dan memanfaatkan rempah-rempah tersebut.

“Betapa kayanya Indonesia, hingga Belanda bernama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang menjajah 3,5 abad  Nusantara ini mendapatkan keuntungan dari rempah-rempah kekayaan alam kita,” ujarnya.

Bahkan, kata Doni, pembangunan di hampir semua kota di Belanda, sebagian dananya berkat perdagangan rempah-rempah dari Indonesia yang dirampasnya.

Salah satu bukti, bangsa Belanda betul-betul mendapatkan keuntungan dari perdagangan rempah-rempah adalah monumen yang dibangun di Amsterdam. Monumen itu bertuliskan gudang rempah-rempah.

Bahkan, sebutnya lagi, sebuah perusahaan rempah-rempah di Belanda memiliki kekayaan setara dengan 7,9 triliun US$D.

“Jadi betapa kayanya VOC saat itu, dari perdagangan rempah-rempah Indonesia,” tukasnya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, Indonesia bagian timur, yakni Maluku dan Papua yang menyimpan kekayaan alam sangat luar biasa menjadi pijakan VOC saat menjajah Indonesia.

“VOC pernah menguasai dan memanfaatkan kekayaan rempah-rempah di kepulauan itu, selama ratusan tahun lalu,” ujarnya.

Dia menyebut, banyak peninggalan VOC di nusantara, terutama di Maluku hampir 100 benteng untuk mengamankan rempah-rempah.  Benteng-benteng tersebut suatu bukti, bahwa VOC dapat keuntungan besar dari hasil alam Indonesia.

“Jadi, pemerintah Belanda-VOC mendapatkan kekayaan dari Nusantara. Paling banyak di wilayah Maluku yang adalah cengkih dan pala,” pungkasnya.

Lihat juga...