Durian Jatuh Pohon Paling Diburu Pembeli

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Bagi Sigit Purnama, datangnya musim durian, menjadi waktu untuk mencari keuntungan dari penjualan buah bernama latin durio zibethinus tersebut.

“Kalau jenis durian ada bermacam-macam, mulai dari montong, petruk, sampai jenis lokal. Semuanya ada penggemarnya masing-masing,” paparnya, saat ditemui di kebun durian miliknya di Semarang, Selasa (8/12/2020).

Ditambahkan, apa pun jenis durian yang tawarkan, dirinya mengaku hanya menjual buah durian yang jatuh dari pohon.

“Memang ini menjadi ciri khas saya, sekaligus bisa dibilang keunggulan, karena tidak semua penjual melakukan hal yang sama. Banyak yang memilih dikarbit, agar durian cepat matang,” lanjutnya.

Padahal, dengan dikarbit kualitas durian, terutama dari segi rasa bisa menurun. “Kalau dikarbit, sering kali durian itu matang atau masak, namun rasanya hambar,” tambahnya.

Berbeda dengan durian matang pohon, rasa asli dari buah tersebut bisa muncul, mulai dari manis hingga pahit manis.

“Peminatnya sangat banyak. Mereka biasanya pesan satu hari sebelumnya, namun karena ini menunggu buah jatuh, jadi tidak bisa diprediksi jumlahnya,” lanjut Sigit.

Dijelaskan, rata-rata untuk buah durian lokal dijual dari harga Rp75 ribu hingga Rp100 ribu per buah tergantung ukuran.

“Agar buah tidak rusak, saat jatuh dari pohon, saat masih muda sudah ditali terlebih dulu. Jadi saat matang serta terjatuh, posisinya menggantung. Tertahan tali rafia,” tambahnya.

Namun, panen durian pada tahun ini menurutnya gagal. Hal tersebut karena datangnya musim penghujan, yang lebih awal.

“Pohon durian ini mulai berbunga sekitar tiga bulan lalu, namun awal September 2020 hujan sudah turun. Akibatnya banyak bunga durian yang rontok. Imbasnya panen durian pun berkurang,” jelasnya lagi.

Lihat juga...