Ekonom: Pemerintah Harus Optimalkan Produktivitas Pertanian 

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bustanul Arifin mengimbau agar pemerintah berbenah mengoptimalkan produktivitas sektor pertanian yang pertumbuhannya masih melambat.

Hal ini menurutnya, karena nilai Total Faktor Produksi (TFP) pertanian Indonesia sejak tahun 1996 hingga 2017 masih mengalami pertumbuhan yang negatif di kisaran angka 0,65 persen.

“Ini disebabkan, penetrasi teknologi yang minim di sektor pertanian dalam negeri kita,” ujar Bustanul, kepada Cendana News saat dihubungi, Senin (21/12/2020).

Tercatat pula penurunan TFP, tambah dia, pada tahun 2011 di angka 0,36 persen sampai 0,05 persen. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan TFP sepanjang tahun 2001 hingga 2010.

“2001-2010 itu masih zona positif di kisaran angka 0,08 persen sampai  1,71 persen. Triwulan III 2020 memang sektor pertanian positif ya tapi belum signifikan,” ujarnya.

Guna mendorong pertumbuhan sektor pertanian menurutnya, diperlukan dukungan teknologi, sehingga dapat mengaktualisasi pertumbuhan ekonomi nasional kedepannya.

Untuk mewujudkan kedaulatan pangan, dia berharap Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan terobosan untuk perkembangan teknologi.

Yakni sebut dia, bisa dimulai dari climate-smart, bioteknologi modern, pertanian presisi, integrasi rantai nilai di hulu-hilir, marketplace untuk akses dan stabilisasi harga produk pertanian.

Kan TPF pertanian masih negatif, ada masalah dan tentu harus diperbaiki. Kalau tidak, maka kedaulatan pangan kita bisa terganggu, kesejahteraan rakyat tidak terwujud,” tukasnya.

Selain itu, tambah dia, pemerintah juga perlu mengantisipasi perubahan perilaku konsumen dengan penerapan pengiriman langsung (direct delivery) yang lebih disukai.

Terpenting lagi di masa pandemi Covid-19 ini, kata Bustanul, pemerintah perlu melaksanakan perlindungan kepada para petani secara memadai dengan kebijakan efektif yang berpihak

Sehingga misi dan target pemerintah mewujudkan kedaulatan pangan dapat tercapai dengan maksimal.

Tentu kata dia, kebijakan tersebut berupa dukungan peningkatan produksi, produktivitas dan efisiensi dengan teknologi modern harus terus diterapkan.

“Nah, catatan penting yakni dukungan peningkatan produksi, produktivitas, efisiensi, stabilisasi harga untuk menjaga daya beli konsumen. Terpenting lainnya yaitu akses pangan,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia menegaskan, dalam jangka panjang selain teknologi modern, bahwa sumber daya manusia (SDM) dan investasi modal pertanian di pedesaan perlu digerakkan dengan pemerataan.

Dengan begitu diharapkan dapat terwujud perubahan teknologi yang berubah sangat pesat.

“Kalau teknologi pertanian berkembang pesat, ini bisa untuk menghindari jebakan kelas menengah. Kehidupan petani bisa lebih sejahtera,” tutupnya.

Lihat juga...