Ekonom: Pertumbuhan Ekonomi 2021 Masih Terkoreksi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati, mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional pada 2021 masih akan terkoreksi sehingga pertumbuhan yang ditargetkan pemerintah di angka 5,5 persen sulit untuk dicapai.

“Prediksi kami, di kuartal I 2021 masih negatif. Dimungkinkan di kuartal II baru akan melaju pertumbuhan ekonominya. Ya, itu pun kalau tidak ada accident di tengah jalan,” ujar Enny, kepada Cendana News saat dihubungi, Senin (28/12/2020).

Menurutnya, jika daya beli masyarakat masih rendah, maka ekonomi Indonesia masih akan terkoreksi. Dan hanya dengan cara efektif, daya beli mereka dapat ditingkatkan.

“Untuk membangkitkan konsumsi masyarakat, cara efektifnya ya dengan mempekerjakan kembali karyawan yang di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja),” tukasnya.

Terkait bantuan sosial (bansos) berupa uang atau sembako dalam upaya mencukupi kebutuhan masyarakat. Enny menilai bansos tersebut hanya bersifat sementara selama pandemi Covid-19 melanda.

“Bansos itu sifatnya sementara, nggak akan kuat mendorong daya beli masyarakat. Kan hidup mereka tertekan kehilangan pendapatan akibat kena PHK,” ujarnya.

Dia menegaskan, pemerintah mengeluarkan anggaran berapa pun untuk perlindungan sosial upaya ini tidak akan mungkin memadai untuk mencukupi kebutuhan keseharian masyarakat.

“Apalagi perlindungan sosial di tahun 2021, nggak lebih besar dari 2020. Maka, ya cukup berat target pertumbuhan membaik di angka 5,5 persen itu,” imbuhnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, indikator ekonomi nasional masih menunjukkan tekanan yang berat hingga akhir November 2020. Inflasi 1,59 persen secara tahunan  jauh dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBN) 2020 sebesar 3 persen.

Menurutnya, inflasi ini disebabkan daya beli masyarakat yang rendah hingga berdampak cukup buruk pada perekonomian nasional.

“Ekonomi nasional di akhir tahun ini cukup tertekan, diprediksi minus 2,2 persen hingga positif 1,7 persen dari prediksi 5,3 persen sebelum Covid-19,” pungkasnya.

Lihat juga...