Embung Alami dan Buatan di Lamsel Dukung Kelestarian Lingkungan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Keberadaan embung menjadi salah satu penentu kelestarian lingkungan di wilayah Lampung Selatan. Sejumlah embung terbentuk secara alami, dan sebagian dibangun dengan konstruksi permanen. Embung alami dan buatan sebagian berada di wilayah Bakauheni, dimanfaatkan warga untuk melestarikan lingkungan dan untuk tanaman pertanian sebagai fungsi utama embung.

Robiin, petani di Dusun Gubuk Seng, Desa Bakauheni, menyebut embung menjadi salah satu tumpuan lahan pertanian di wilayahnya. Embung yang berada di dusun setempat terjadi oleh proses alami dengan keberadaan perbukitan dan cekungan. Warga memilih membendung pertemuan kaki bukit menjadi sebuah embung penampung air. Saat kemarau, embung bisa dimanfaatkan sebagai sumber air bersih dan penyiram tanaman.

Menurutnya, keberadaan embung di wilayah Bakauheni sekaligus memiliki fungsi ganda. Sebagian warga memanfaatkan air embung untuk air baku, yang diendapkan memakai drum plastik yang bisa dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci. Keberadaan embung terkoneksi dengan sungai Kubang Gajah sebagai sumber pasokan air.

Pemanfaatan embung sebagai sarana penyiapan kebutuhan air dimanfaatkan oleh Robiin, warga Desa Bakauheni, Lampung Selatan, Rabu (23/12/2020). -Foto: Henk Widi

“Warga mengandalkan embung untuk mempertahankan pepohonan di perbukitan Bakauheni, karena proses penyiraman tetap bisa dilakukan memakai sistem pompanisasi, sehingga kebutuhan air tetap bisa terpenuhi, bahkan kala musim kemarau,” terang Robiin saat ditemui Cendana News, Rabu (23/12/2020).

Robiin bilang, embung dan sungai di Bakauheni kala musim penghujan memiliki kualitas air yang bersih. Memanfaatkan pasokan air dari embung, ia bisa melakukan penanaman pohon kayu di lahan perbukitan. Jenis tanaman pohon yang ditanam meliputi jengkol, petai, mangga. Selain itu, ia bisa melakukan sistem pertanian dengan model berundak atau terasering. Cara itu mencegah longsor lahan miring.

Lihat juga...