Erupsi Gunung Api Ile Lewotolok, Warga Dievakuasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Dampak letusan Gunung Api Ile Lewotolok membuat ribuan warga Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tersebar di 26 desa terpaksa dievakuasi ke 13 lokasi pengungsian di Kota Lewoleba.

Selain ditampung di posko pengungsian yang ada, warga 2 kecamatan ini pun secara mandiri mengungsi ke rumah-rumah warga yang berada di Kota Lewoleba sejak Sabtu (28/12/2020) hingga Selasa (1/12/2020).

“Hingga hari ini sudah sebanyak 7.968 warga yang mengungsi ke lokasi pengungsian yang disiapkan pemerintah di Kota Lewoleba,” kata Bupati Lembata, NTT, Eliaser Yentji Sunur, saat ditanyai di Posko Pengungsi di bekas kantor DPRD Lembata, Rabu (2/12/2020).

Bupati Lembata, NTT, Eliaser Yentji Sunur (kanan) saat ditemui di posko utama bekas kantor DPRD Lembata, Kota Lewoleba, Rabu (2/12/2020). Foto: Ebed de Rosary

Yentji menyebutkan, pihaknya sudah melakukan pendataan terhadap para pengungsi baik yang berada di posko pengungsian maupun di rumah-rumah warga di Kota Lewoleba.

Ia menjelaskan, pendataan juga dilakukan terutama untuk kelompok-kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, manula dan kaum disabilitas agar mempermudah dilakukan penanganan di posko pengungsian.

“Kita juga melakukan pendataan terhadap pengungsi di rumah-rumah warga termasuk dengan hewan ternak yang dimiliki. Kita juga akan menempatkan polisi dan TNI untuk menjaga kampung yang ditinggalkan pengungsi agar harta benda mereka tidak dicuri orang,” ungkapnya.

Yentji berharap warga yang masih berada di desa-desa yang rawan bencana agar segera mengungsi ke posko pengungsian yang disiapkan pemerintah untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

“Kita berharap agar warga yang masih berada di rumah yang masuk dalam radius zona bahaya agar segera mengungsi ke posko pengungsian sesuai dengan imbauan pemerintah,” harapnya.

Sementara itu, Benediktus Bedil, anggota Forum Penanggulangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Lembata mengaku, anggota forum tidak dilibatkan dalam penanganan bencana sejak awal terjadinya erupsi.

Ben sapaannya, menyesalkan sikap pemerintah terutama BPBD Kabupaten Lembata yang tidak mengundang anggota FPRB agar bersama-sama menangani bencana erupsi Gunung Api Ile Lewotolok agar apa yang dikerjakan untuk penanganan pengungsi bisa lebih baik.

“Kami melihat penanganan terhadap pengungsi di posko pengungsian di Kota Lewoleba masih belum bagus. Maka ketika terjadi hujan pemerintah bingung apakah mau mengevakuasi pengungsi ke sekolah-sekolah ataukah tetap berada di lokasi pengungsian dan tidur di tenda-tenda,” ungkapnya.

Lihat juga...