Gen Z Paham Kejahatan Lingkungan Hidup Adalah Ekosida

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), berdasarkan hasil riset terbaru mereka, menyataan Gen Z atau generasi muda usia 16-25 tahun di Indonesia memiliki tingkat kepedulian yang cukup baik terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Manajer Kampanye Keadilan Iklim Eksekutif Nasional Walhi, Yuyun Harmono, mengungkapkan bahwa riset dilakukan di tujuh provinsi kepada setidaknya 1.000 responden. Namun, sayangnya pengetahuan kelompok muda tersebut masih diabaikan atau belum dianggap signifikan untuk didengarkan.

“Padahal, kelompok muda ini bukan saja paham soal isu lingkungan hidup. Tetapi, juga menerapkan kepedulian lingkungan hidup dalam kesehariannya. Mereka ingin mengambil peran lebih aktif dalam persoalan struktural lingkungan hidup, antara lain yang terkait aktor nonnegara (korporasi), kebijakan negara dan penegakan hukum,” ujar Yuyun dalam webinar terkait Laporan Hasil Riset Walhi tersebut, Rabu (23/12/2020).

Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Nur Hidayati, memberikan paparan pada webinar bertajuk Laporan Riset Walhi, Kejahatan Korporasi dan Ekosida di Mata Publik, Rabu (23/12/2020). –Foto: Amar Faizal Haidar

Yuyun tidak menampik, bahwa hasil survei memang belum dapat menggambarkan secara keseluruhan dari representasi nasional, namun temuan tersebut menangkap suara yang kuat dari kelompok muda, bahwa harus ada penegakan hukum yang tegas terhadap kejahatan lingkungan hidup yang melibatkan korporasi besar.

“Dari riset itu juga, kami melihat kelompok muda mengetahui dan memahami hak atas lingkungan hidup adalah hak asasi manusia, dan menilai kejahatan terhadapnya merupakan pelanggaran berat HAM atau disebut ekosida. Namun, mereka membutuhkan informasi dan pengetahuan lebih dalam tentang ekosida, seperti mempelajari unsur-unsur kejahatan tersebut dalam instrumen HAM,” papar Yuyun.

Sementara itu di forum yang sama, Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Nur Hidayati, mengatakan kejahatan korporasi bukan hanya soal lingkungan hidup semata, tetapi juga terhadap HAM, yang dampaknya jangka panjang dan akan mempengaruhi hak hidup generasi datang dan sering kali sifatnya permanen.

“Sebenarnya kami sudah lama mendorong wacana ekosida. Beberapa tahun terakhir, kami coba lebih intens karena kami lihat itu penting didorong sebagai konsep yang diakui negara, dan bisa masuk sistem kenegaraan kita,” tandasnya.

Walhi, lanjut Nur Hidayati, melakukan studi untuk melihat persepsi publik terhadap wacana ekosida tersebut dan hal struktural terhadap masyarakat. Itu berguna bagi mereka untuk merancang strategi komunikasi publik, agar konsep tersebut dapat dukungan luas dari publik.

“Kami sengaja meminta tanggapan hasil riset tersebut kepada Komnas HAM, generasi muda, hingga jurnalis untuk memberi masukan atau rekomendasi yang berguna bagi Walhi ke depan dalam mendorong wacana ekosida tersebut, sebagai arus utama di kemudian hari,” pungkasnya.

Lihat juga...