Genjot Penambahan Jumlah Profesor, UB Siap Menjadi WCU

Editor: Makmun Hidayat

MALANG — Universitas Brawijaya (UB) terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) untuk menjadi world class university (WCU), salah satunya dengan menambah jumlah profesor di masing-masing fakultas melalui program percepatan guru besar.

Tercatat hingga saat ini UB telah menghasilkan 272 profesor, termasuk dua profesor baru yang dikukuhkan hari ini yakni Prof. Dr. Rachmad Safa’at, SH., M.Si dari Fakultas Hukum (FH) dan dan Prof. Dr. Drs. Luqman Hakim, M.Sc dari Fakultas Ilmu Adminstrasi (FIA).

Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR, menyampaikan UB saat ini telah dipromosikan dan diharapkan oleh kementerian supaya bisa menjadi world class university. Artinya, UB tidak diminta untuk bersaing di dalam negeri saja tetapi juga bisa untuk bersaing di luar negeri.

Selain itu menurutnya, kementerian juga menargetkan UB untuk bisa terus menambah jumlah profesor.

“Saya kontrak dengan pak menteri untuk terus menambah jumlah profesor. Alhamdulillah hari ini ada dua profesor yang dikukuhkan dan insyaallah kedepan ada 3 lagi yang sedang dalam proses untuk bisa segera dikukuhkan menjadi profesor,” sebutnya saat memberikan sambutan dalam rapat terbuka senat UB pengukuhan profesor, di gedung Widyaloka, Kamis (17/12/2020).

Karenanya Nuhfil berharap program percepatan guru besar di UB bisa terus dilakukan termasuk juga bagi yang sudah menjadi profesor, harus bisa selalu meningkatkan kinerja dan prestasinya.

“Saya ingatkan kepada para profesor bahwa tugas mereka ke depan adalah meningkatkan reputasi UB dengan cara meningkatkan reputasi dari masing-masing individu, baik secara nasional maupun internasional. Karena dengan cara tersebut maka otomatis reputasi UB juga akan meningkat,” tuturnya.

Sementara itu, Profesor Bidang Ilmu Hukum Lingkungan dan Sumber Daya Alam Prof. Dr. Rachmad Safa’at, SH., M.Si, dalam pidato pengukuhannya menilai perlu adanya keadilan dalam tata kelola pertambangan mineral dan batubara, sebab Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan merupakan penghasil batubara terbesar kelima di dunia, sekaligus menjadi negara pengekspor batubara terbesar di dunia karena masih minimnya pemanfaatan batubara di dalam negeri.

Suasana pengukuhan Prof. Dr. Rachmad Safa’at, SH., M.Si dan Prof. Dr. Drs. Luqman Hakim, M.Sc di gedung Widyaloka, Kamis (17/12/2020). -Foto: Agus Nurchaliq

Karenanya dengan potensi kontribusi yang besar tersebut diperlukan adanya kejelasan arah politik hukum tata kelola pertambangan mineral dan batubara yang mampu menyejahterakan rakyat, khususnya di daerah yang kaya bahan tambang serta menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi berikutnya.

Lihat juga...