Green Sukuk ST007, Dedikasi Pelestarian Lingkungan Hidup

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR), Dwi Irianti Hadiningdyah menyebutkan komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi lingkungan dan ketahanan iklim sebesar 29 akan diwujudkan pada 2030.

Untuk membiayai program hijau tersebut, pemerintah melakukan terobosan dengan penerbitan instrumen bond berkonsep sukuk hijau atau green sukuk ST007 merupakan Surat Berharga Negara (SBN) syariah pertama di dunia.

“Green sukuk ini instrumen pembiayaan syariah yang didedikasikan bagi kelestarian lingkungan hidup, termasuk perbaikan ketahanan iklim dan penurunan emisi lingkungan,” ungkap Dwi, pada acara virtual penanganan perubahan iklim di Jakarta, Rabu (30/12/2020).

Green sukuk ST007 ini telah diluncurkan pada awal November 2020, dan merupakan tahap kedua sejak seri perdana ST006 diluncurkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada November 2019.

Target awal penyerapan dari penerbitan green sukuk ritel ini adalah sekitar Rp 2 triliun. Penerbitan kali ini, bersifat non-tradeable atau tidak dapat diperdagangkan selama dua tahun.

“Pembelian minimum seri ini mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 3 miliar. Untuk periode pertama yang akan dibayarkan pada 10 Januari 2021 dan tanggal 10 Februari 2021,” ujarnya.

Green sukuk ritel ini dirancang dengan imbalan tinggi dibandingkan dengan green sukuk pada pasar global, yaitu sebesar 6,75 persen. Sedangkan green sukuk yang diterbitkan di pasar global pada Maret 2018 memiliki tingkat imbalan sebesar 3,75 persen.

Dengan green sukuk ritel, menurutnya, masyarakat dapat ikut berkontribusi dalam melawan perubahan iklim. Karena memang pemerintah memerlukan sinergi semua pihak dalam penanganan perubahan iklim ini.

Di samping itu, masyarakat juga akan mendapatkan manfaat langsung dari investasi yang telah ditanamkan. Yakni, menurutnya, baik dari segi finansial maupun manfaat kepada lingkungan di masa depan.

“Investasi green sukuk ST007 Rp1 juta saja, itu diproyeksikan bisa menyumbang menurunkan emisi karbon sebanyak 213 ribu ton,” ujarnya.

Angka tersebut menurutnya, setara perjalanan Jakarta-Bandung dengan kendaraan roda empat sebanyak 56 kali. Perhitungan tersebut juga setara dengan menanam 200 pohon manggis yang memiliki manfaat sangat baik bagi lingkungan.

Dwi berharap edukasi mengenai green sukuk ini lebih luas lagi disosialisasikan kepada masyarakat.

Apalagi menurutnya, saat ini isu-isu terhadap perubahan iklim semakin marak dan semakin banyak pula lapisan masyarakat yang peduli terhadap pelestarian lingkungan.

Lihat juga...