Gua Natal, Makna Kesederhanaan Kelahiran Juru Selamat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Tangan-tangan terampil merangkai lampu warna-warni di pohon cemara hidup. Pohon cemara yang digunakan sebagai simbol pohon terang dilengkapi pernak-pernik menarik. Tepat di bawahnya ornamen gua dibuat dari bekas kertas semen.

Benedictus dan sejumlah muda mudi Katolik (Mudika) membuat gua Natal untuk perayaan malam Natal di Gereja Santo Petrus dan Paulus, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan.

Benedictus menyebut semangat kesederhanaan jadi simbol yang dihadirkan dalam ornamen Natal. Bagi umat Kristiani kelahiran Sang Imanuel yang dirayakan sebagai Natal menjadi akhir dari masa penantian atau Adventus. Tradisi membuat gua Natal sebutnya tidak lepas dari semangat untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus dalam kesahajaan.

Sesuai tradisi dan sejarah Kristiani pada tahun 1223 Santo Fransiskus dari Assisi menciptakan gua Natal pertama kali. Gua Natal yang secara tradisi dibuat oleh umat Katolik memiliki makna penggambaran suasana kelahiran Yesus Kristus ribuan tahun silam. Kini setiap gereja Katolik membuat gua Natal bahkan saat perayaan dilakukan kala pandemi Covid-19.

“Pembuatan gua Natal lengkap dengan miniatur suasana pegunungan, gua yang ada di perbukitan sebagai padang penggembalaan saat Yesus Kristus lahir pada sebuah kandang. Jadi digambarkan dengan adanya patung bayi Yesus di palungan tempat minum ternak, bunda Maria, Yusuf dan para gembala serta malaikat,” terang Benedictus saat ditemui Cendana News di gereja Santo Petrus dan Paulus, Selasa malam (22/12/2020).

Penggunaan pohon cemara sebagai hiasan gua Natal simbol tempat kelahiran Yesus, Selasa malam (22/12/2020) – Foto: Henk Widi

Berbeda dengan tahun sebelumnya, suasana sederhana ditampilkan pada malam Natal tahun ini. Benedictus menyebut bagi umat Kristiani perayaan akan dilakukan pada Kamis (24/12/2020) malam. Persiapan pembuatan gua Natal sekaligus menjadi tanda keheningan karena perayaan digelar dalam keprihatinan masa pandemi Covid-19.

Kebersamaan membuat hiasan gua Natal oleh para pemuda Katolik di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan jadi refleksi untuk menyambut kelahiran Yesus. Suasana penggambaran kelahiran Yesus menjadi cara untuk menggambarkan kedatangan-Nya yang sederhana. Meski tidak dirayakan meriah, memaknai Natal tetap akan jadi tujuan.

“Meski gua Natal dihias seperti biasa namun perayaan Natal tidak ada nyanyian, umat dibatasi serta wajib mematuhi protokol kesehatan,” cetusnya.

Benedictus menyebut tradisi membuat gua Natal tetap dilestarikan oleh Muda Mudi Katolik (Mudika). Cara tersebut sekaligus untuk menanamkan dalam diri generasi muda dan anak-anak makna Natal.

Simbol kehadiran Yesus dalam dunia anak-anak menjadi contoh agar manusia bisa merenungkan kasih-Nya. Proses pengerjaan memakan waktu hampir sepekan melahirkan semangat kebersamaan.

Dio, salah satu anggota Mudika lainnya menyebut butuh proses berhari-hari untuk membuat gua Natal. Proses tersebut diawali dengan konsep untuk menggambarkan suasana kelahiran Yesus di kandang ternak. Sebuah minatur kandang dibuat dari bambu, kayu dan atap daun rumbia. Suasana pegunungan lengkap dengan gua dan tebing diberi cat warna coklat dan hitam.

“Kertas semen yang telah dibentuk akan terangkai memakai kerangka bambu, kayu lalu disambung membentuk gua Natal,” sebutnya.

Pada tahap akhir suasana padang penggembalaan yang diterangi bintang akan dihiasi dengan lampu warna-warni. Setelah semua hiasan dipasang pada bagian atas gua akan dipasang tulisan Gloria in excelcis Deo yang berarti kemuliaan kepada Allah di tempat tinggi.

Pernak-pernik hiasan Natal yang terlihat semarak tersebut tetap dibuat sederhana untuk menyambut perayaan Natal.

Lihat juga...