Gurihnya Kudapan Khas Bandung Serabi Bertabur Oncom

Editor: Mahadeva

Untuk menjaga konsistensi rasa, Dodo memasak serabi dengan cara tradisional, yakni dengan menggunakan api dari kayu bakar. “Saya mempertahankan keaslian serabi Bandung, dimasak dengan kayu bakar. Rasanya lebih lezat, banyak pelanggan juga yang bilang begitu. Katanya kalau dimasak dengan kompor gas, rasanya itu beda, kurang enak,” ujar ayah empat anak ini. Proses memasak serabi tidak lama. Hanya membutuhkan waktu 10 menit, serabi yang dimasak di dalam tungku dengan cara dibakar sudah dapat diangkat dan siap disantap.

Serabi khas Bandung dalam perkembangannya, saat ini menjadi kudapan aneka rasa yang dihidangkan dengan pilihan topping. Ada keju, pisang, mesis, nangka dan telur. “Saya juga jual serabi aneka rasa, tergantung maunya pembeli. Tapi paling banyak disukai sih, ya serabi rasa original dan oncom,” ujar Dodo.

Sepasang serabi original, dijual Rp3.000, lengkap dengan kuah kinca. Sedangkan serabi rasa oncom, dijaual sepasang Rp4.000. Dodo berjualan serabi khas Bandung di Jalan Lapan Kalisari, setiap hari pagi dan sore. “Alhamdulillah peminatnya cukup ramai, kadang antri. Saya jualan serabi ini sejak 2012,” ujar pria kelahiran 52 tahun lalu tersebut.

Endah Nuryati, salah satu pembeli mengaku, menyukai kudapan tradisional khas Bandung itu. Ia setiap pagi selalu membeli serabi untuk dinikmati keluargan di rumah. “Serabi ini enak untuk dinikmati sambil minum teh hangat. Rasanya masih kaya serabi zaman dulu saat saya kecil. Karena dimasak pakai kayu bakar itu, cita rasanya terjaga,” tutupnya.

 

Lihat juga...