Lebaran CDN

Gurihnya Uli Bakar, Kudapan Khas Betawi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Uli Bakar atau disebut juga ketan uli, salah satu kudapan khas yang ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, dan masih ada di Bekasi. Penganan tersebut, dikenal sebagai salah satu kudapan khas Betawi. Saat ini masih gampang ditemui di jual dengan gerobakan atau mangkal di berbagai lokasi.

Bahkan tak jarang hadir dengan konsep kekinian, ditambah beragan varian rasa dan topping untuk menambah minat. Variannya sudah lebih dari sekadar kelapa parut dan serundeng kelapa sebagai penambah pada biasanya Uli bakar. Salah satunya Komar (55), yang berjualan di seputaran Jatiluhur, Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat.

“Dulu, saya keliling di wilayah pasar Kecapi, sekarang sudah tidak kuat dan susah tiga tahun ini, hanya mangkal,”ungkap Komar, pria asli Tasik tersebut, kepada Cendana News, Sabtu (26/12/2020).

Komar, hanya menjual Uli Bakar original. Ia rajin, membolak-balikan Uli bakar yang sudah berbentuk kotak, di perapian gerobaknya dengan menggunakan bara dari arang yang telah disiapkan.

Sambil membolak balikkan Uli, yang telah dibentuk dari rumahnya itu, Komar mengakui bahwa Uli Bakar sebenarnya ada juga di Tasik. Tapi, lebih dikenal sebagai khas Betawi, di Tasik sendiri sebenarnya Uli Bakar ini dikenal dengan hubungan kekeluargaan yang disajikan pada momen tertentu dulunya.

“Tak hanya soal jejak rasa Uli yang gurih tapi juga ada makna religi yang dihadirkan,” ungkapnya.

Dalam proses pembuatan ketan uli itu sendiri terbilang romantis, karena melibatkan keluarga biasanya ada pembagian tugas antara pria dan wanita seperti menumbuk ketan menjadi halus, membuat santan dan parut kelapa untuk kemudian dikukus oleh perempuan.

“Sampai sekarang, di rumah yang kukus Uli isteri saya, saya bagian menyiapkan kelapa, parut dan lainnya. Ketan ini kelapa parut langsung di masak berbarengan dengan ketan putih yang sudah dihancurkan,” ujarnya.

Menurutnya dalam pembuatan Uli Bakar terbilang gampang-gampang susah. Karena harus dibutuhkan kesabaran dalam prosesnya seperti mengukus dan manggang harus dibolak-balikkan. Setelah diangkat di kukusan juga harus didepo, istilah orang Sunda, untuk membentuk kotak- kotak.

Untuk menambah kenikmatan dicampur dengan serundeng yang telah dicampur gula merah dan putih. Biasanya enak disantap bersama kopi, teh atau lainnya.

“Uli Bakar memerlukan bahan baku yang baik, termasuk kelapa harus dipilih kualitas tidak terlalu tua atau muda. Karena selain rasanya juga agar tidak mudah basi,” jelas Komar.

Lebih lanjut ia mengakui saat ini memiliki pelanggan tertentu saja. Mereka yang paham rasa Uli Bakar, pasti kembali lagi. Kebanyakan orang zaman dulu beli Uli Bakar saat pagi dan sore untuk teman ngopi atau sebagai pengganjal perut.

Salah seorang pelanggan mengaku bernama Ocang saat mengantri, mengaku setiap libur seperti Sabtu Minggu pasti datang untuk membeli. Ini, sebagai teman ngopi keluarga.

“Kalau buat sendiri sebenarnya mudah, tapi kan memerlukan waktu, terkadang tidak habis juga. Makanya beli saja, lagi Uli Bakar ini original dan harganya termasuk standar,”ujarnya.

ULI Bakar Komar, hanya Rp3000/kotaknya. Sehari jumlah omzetnya tidak pasti. Komar mengaku hanya cukup untuk dirinya memenuhi kebutuhan keluarga seadanya.

Lihat juga...