Harga Merosot, Petani di Bandung Tetap Jual Tembakau ke Bandar

Editor: Makmun Hidayat

BANDUNG — Menjadi petani memang tidak selalu menyenangkan, terlebih saat permintaan komoditas di pasar menurun, sementara persediaannya melimpah, maka hukum ekonomi berlaku, harga jatuh.

Hal tersebut diperparah dengan sulitnya petani menembus pasar, sehingga harus melewati tangan ketiga, bandar atau tengkulak. Tentu saja, membuat harga jual komoditas petani semakin jatuh. Hal ini dialami Emen (64), petani tembakau asal Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Kepada Cendana News, Emen mengatakan, terpaksa harus menjual tembakaunya karena saat ini peminat tembakau sedang rendah. Pasalnya, jika dibiarkan terlalu lama, kualitas tembakau akan memburuk.

“Mau gimana lagi, daripada tembakaunya rusak. Karena tembakau ini agak manja, kalau cuaca terlalu dingin, dia cepat buluk, kalau terlalu panas cepat kering dan keras,” kata Emen saat ditemui di kediamannya, Selasa (29/12/2020).

Pak Emen, saat sedang mengiris daun bakau sebelum memasuki proses penjemuran, Selasa (29/12/2020) di Desa Pinggirsari. -Foto Amar Faizal Haidar

Emen menyebut, biasanya, ia menjual tembakau seharga Rp30.000 per sasak kepada pelanggan. Namun di bandar harganya turun drastis, menjadi hanya Rp12.500.

“Tadi saya jual 100 sasak. Masih ada sisanya untuk diisap sendiri dan masih ada sedikit untuk dijual kalau ada yang datang beli,” tandasnya.

Meski demikian, Emen mengungkapkan bertani tembakau sejatinya tidak membutuhkan modal yang besar. Hanya perlu membeli pupuknya saja, Rp200.000 sekarung.

“Kalau bibitnya kan bisa ambil dari bekas pohonnya. Jadi cuma untuk pupuknya saja, dan itupun diberi pupuk cuma 2 sampai 3 kali selama ditanam,” kata Emen.

Namun, lanjut Emen, memang membutuhkan energi yang besar untuk menjadi petani tembakau. Sebab saat panen, daun-daun bakau yang sudah menguning harus dipetik, dan harus berurusan dengan getah bakau, yang tidak jarang membuat tangan rusak.

Tidak cukup sampai di situ, setelah dipetik, daun-daunnya pun harus diiris kecil. Proses itu membutuhkan waktu cukup panjang. Setelah itu, tembakau harus dijemur dan diembunkan selama kurang lebih 10 hari, baru menghasilkan cita rasa tembakau yang nikmat.

“Ya begitulah petani bakau. Tapi kalau dijalanin sih enak aja. Bapak sudah dari kecil nanam bakau, jadi udah terbiasa proses begitu,” pungkasnya.

Sementara Asep, penikmat bakau dan juga pelanggan setia tembakau mengakui kenikmatan tembakau Emen. Menurutnya, rasa yang dihasilkan tembakau tersebut berbeda dengan yang dijual di pasaran.

“Asapnya itu terasa banget. Saya semenjak nyoba bakau Pak Emen, berhenti beli rokok bungkusan. Selain lebih murah, tembakau juga lama habisnya, bisa sampai 3 minggu,” kata Asep kepada Cendana News.

Lihat juga...