Harga Minyak Turun Lagi karena Kekhawatiran Penyebaran Virus

Ilustrasi - Fasilitas minyak. (ANTARA/Reuters)

NEW YORK – Harga minyak jatuh lagi pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), karena para pedagang makin khawatir atas permintaan bahan bakar yang lebih lemah, setelah varian baru Covid-19 terdeteksi di Inggris dan mendorong pembatasan mobilitas baru.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Februari turun 83 sen atau 1,6 persen, menjadi ditutup pada 50,08 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari berkurung 95 sen atau 2,0 persen menjadi menetap di 47,02 dolar AS per barel.

Kedua kontrak acuan jatuh hampir tiga persen pada Senin (21/12/2020), sebagian menghapus keuntungan baru-baru ini yang didorong oleh peluncuran vaksin Covid-19, yang dipandang sebagai kunci untuk memungkinkan kembali ke kehidupan normal.

Deteksi varian baru virus Corona mendorong beberapa negara menutup perbatasannya dengan Inggris. BBC mengutip Menteri Eropa Prancis mengatakan, bahwa kedua negara akan mengumumkan kesepakatan untuk memulai kembali pengiriman pada Rabu waktu setempat.

Reli terbaru Brent — acuan global — memuncak mencapai 52,48, tertinggi sejak Maret, pada Jumat lalu (18/12/2020). Harga kemudian turun di tengah kekhawatiran tentang penyebaran virus. Beberapa melihat potensi harga turun lebih jauh.

“Kelesuan liburan telah terjadi pada minyak,” kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group di Chicago. “Sekarang kami telah menyelesaikan stimulus, dan kami masih memiliki kekhawatiran tentang jenis baru virus,” katanya.

Minyak mendapat dukungan dari persetujuan Kongres AS atas paket bantuan virus Corona senilai 892 miliar dolar AS, setelah beberapa bulan tidak bertindak.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, akan meningkatkan produksi sebesar 500.000 barel per hari pada Januari. Belum ada tanda-tanda keraguan yang disebabkan oleh penurunan harga tersebut.

Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak pada Senin (21/12/2020), mengatakan kenaikan produksi seharusnya tidak mengakibatkan kelebihan produksi. (Ant)

Lihat juga...