IDEAS: Intervensi Kebijakan Cerminan Penanganan Covid-19

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Pakar kesehatan dari Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Fajri Azhari mengatakan, penularan virus Covid-19 yang belum terkendali adalah cerminan intervensi pemerintah dalam penanganan pandemi ini yang masih lemah.

Menurutnya, dibutuhkan kebijakan yang mampu menurunkan tingkat penularan Covid-19 sampai di bawah 5 persen. Upaya ini untuk memastikan penularan virus terkendali, seperti penguatan pembatasan mobilitas sosial yang ketat. Sehingga bukan hanya sekadar slogan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Kebijakan intervensi kesehatan yang kuat akan mampu mengendalikan penyebaran Covid-19,” ujar Fajri, kepada Cendana News, saat dihubungi, Jumat (25/12/2020).

Adapun dengan kebijakan vaksinasi, dia mengingatkan pemerintah agar sebelum mengedarkan vaksin, harus terlebih dulu memperhatikan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin tersebut.

Apalagi menurutnya, jurnal The Lancet mencatat distribusi vaksin Covid-19 yang efektif sekalipun dapat meningkatkan risiko kesehatan. Yakni jika masyarakat yang divaksin mengabaikan protokol kesehatan karena merasa kebal terhadap virus.

Sehingga dengan puncak kurva pandemi Covid-19 yang belum terlihat tersebut, ini menggambarkan ketidakpastian kapan wabah akan berakhir.

“Jadi, vaksin ini bukan satu-satunya solusi penanganan pandemi Covid-19. Ada faktor lain, seperti 3 M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) masyarakat yang makin hari makin lengah,” tukasnya.

Fajri berharap pemerintah lebih fokus memperbaiki 3T (Testing, Tracing, Treatment) dengan data yang sinkron antar pemerintah pusat dan daerah. Tentunya harus memenuhi standarlisasi kesehatan global sebagai acuan untuk mengambil kebijakan.

Karena dia menyebut, berdasarkan  bukti empiris, yakni PSBB jilid dua di DKI Jakarta pada 9 September 2020 sampai 12 Oktober 2020, dimana saat itu terjadi pengurangan kasus positif harian sebesar 23 persen.

Namun sayangnya kata dia, pasca-penghentian PSBB, kasus Covid-19 kembali menembus angka 1.600 pada tanggal 16 Desember 2020.

Dia juga menyebut, bahwa positivity rate Indonesia konsisten meningkat sejak Juni 2020. Yaitu dari angka 11,6 persen ke 14,8 persen per 22 Desember 2020. Padahal jika dilihat dari angka positivity harian pada tanggal 21 Desember 2020 mencapai 27,7 persen.

“Jadi ini artinya, hampir 1 dari 3 orang yang diperiksa terkonfirmasi positif Covid-19,” pungkasnya.

Lihat juga...