Ini Keturunan Terakhir Kerbau Peliharaan Soeharto di Kemusuk

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Kerbau bule selama ini selalu identik dengan ‘Kiai Slamet’ yang merupakan hewan peliharaan keramat yang dimiliki oleh Kraton Kasunanan Surakarta.

Namun mungkin tak banyak yang mengira jika di wilayah Yogyakarta pun sebenarnya sejak lama juga terdapat kerbau bule yang dipelihara secara turun-temurun hingga sekarang.

Kerbau bule itu memang bukan milik keluarga Kraton Kasultanan Yogyakarta. Melainkan milik keluarga Presiden Kedua RI, HM Soeharto. Tepatnya keluarga dari trah ibu yang berada di Dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul.

Di sebuah kandang sangat luas, tepatnya di daerah bernama Gunung Asu, Srontakan, beberapa ratus meter di selatan Museum Memorial HM Soeharto, Kemusuk, seekor kerbau bule nampak hidup sebagaimana kerbau pada umumnya.

Kerbau bule yang dipelihara oleh keluarga Soeharto ini menjadi kerbau bule satu-satunya sekaligus kerbau bule terakhir yang masih tersisa di Kemusuk, bahkan mungkin di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tak seperti kerbau pada umumnya yang berwarna hitam keabuan, kerbau bule ini memiliki warna kulit putih kemerahan atau biasa disebut albino. Warna kulit yang mirip dengan orang Eropa inilah yang membuatnya biasa disebut kerbau bule.

Tokoh masyarakat asal Dusun Kemusuk, Gatot Nugroho, menyebut, keberadaan kerbau bule ini memang sudah ada sejak zaman Soeharto masih kecil. Di kawasan Gunung Asu, Srontakan inilah, dulu Soeharto kecil biasa angon (menggembalakan) kerbau bersama teman dan adik-adiknya.

Tokoh masyarakat asal Dusun Kemusuk, Gatot Nugroho, saat dijumpai Cendana News di Kemusuk, Rabu (16/12/2020) – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Kerbau bule itu milik orang tua Pak Harto yang dipelihara secara turun temurun. Kemudian dilanjutkan dipelihara oleh adik Pak Harto, yakni Pak Wito (Noto Soewito), yang juga merupakan adik Pak Probosutedjo. Dan sekarang diurus oleh keluarga anak-anak dari Pak Wito,” ujarnya, Rabu (16/12/2020).

Gatot yang juga merupakan pengelola Museum Memorial HM Soeharto ini menyebut, semasa Pak Wito masih hidup, jumlah kerbau bule yang ada di Kemusuk terbilang cukup banyak. Namun semakin lama jumlahnya semakin berkurang, dan sekarang tinggal satu ekor saja.

“Karena memang kerbau bule itu hanya kawin dan berkembang biak dengan satu keturunan atau satu peranakan saja. Sehingga mungkin secara gen hasil anakannya menjadi kurang bagus sehingga banyak yang mati,” ungkap Gatot.

“Selain itu kerbau bule itu juga banyak diminta oleh sejumlah pihak untuk keperluan ritual pembangunan proyek di berbagai daerah, misalnya saat hendak membangun jembatan, dan lain-lain. Karena memang kerbau bule itu tidak boleh diperjualbelikan, maka ya diberikan,” imbuh Gatot.

Sementara itu, salah seorang warga sekitar yang dipercaya untuk merawat kerbau bule tersebut, Mugi, mengaku, memperlakukan kerbau bule itu seperti hewan ternak pada umumnya. Ia biasa memberi makan kerbau bule berjenis kelamin jantan itu dengan rumput-rumputan maupun damen (batang padi).

Salah seorang warga Kemusuk yang dipercaya untuk merawat kerbau bule milik keluarga Soeharto, Mugi, saat dijumpai Cendana News, Rabu (16/12/2020) – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Kerbau bule ini merupakan anakan terakhir yang tersisa dari indukan sebelumnya. Karena hanya tinggal satu ekor, maka kerbau bule ini dijodohkan dengan 2 ekor kerbau betina biasa. Saat ini sudah menghasilkan 1 ekor anakan, dan satu betina sedang bunting,” ungkapnya.

Namun karena dijodohkan dengan kerbau betina biasa, maka anakan kerbau bule yang lahir pun tidak sepenuhnya seperti indukan jantannya. Sebab warna kulit anakan yang muncul lebih dominan seperti kerbau biasa, yakni abu kehitaman.

“Karena dijodohkan dengan kerbau biasa maka anakan yang muncul bukan lagi kerbau bule. Memang ada kemungkinan bisa muncul anakan kerbau bule, tapi peluangnya sangat kecil. Sehingga jika kerbau bule jantan ini mati, maka ya tidak akan ada lagi kerbau bule di Kemusuk ini,” pungkasnya.

Lihat juga...