Ini Kunci Keberhasilan dalam Budidaya Anggrek

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Bunga anggrek, tetap menjadi primadona pecinta tanaman hias. Keindahan warna dan corak bunga yang dimiliki, menjadikan tumbuhan dengan nama latin orchidaceae tersebut tetap digemari. Di satu sisi, untuk dapat berhasil dalam budidaya atau menanam anggrek, ada beragam faktor yang harus diperhatikan.

“Setidaknya ada empat hal, yang harus diperhatikan dalam budidaya anggrek. Tanaman ini tidak bisa terkena sinar matahari secara langsung, jadi sebaiknya ditempatkan di ruangan atau tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung,” papar Tenaga Laboratorium Anggrek dan Kultur Jaringan Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang , Nurul Yuniati saat ditemui di Urban Farming Corner (UFC) Semarang, Senin (21/12/2020).

Selain itu, suhu udara juga menjadi hal lain yang menjadi perhatian. “Usahakan suhu udara di antara 28-32 derajat celcius. Jadi tidak bisa ditempat dingin atau suhu tinggi. Faktor kelembaban juga menjadi syarat lainnya, sebisa mungkin dijaga agar kelembaban tanaman anggrek. Ini bisa dilihat dari media tanam yang digunakan, jika sudah kering harus segera disirami. Penyiraman bisa dilakukan 1-2 hari sekali,” lanjutnya.

Siklus udara yang lancar, juga menjadi sektor lain yang menjadi perhatian. Terutama jika tanaman anggrek tersebut ditempatkan di dalam ruangan. “Selain itu, sudah pasti perawatan. Mulai dari pemupukan, hingga pemantauan dari serangan hama dan penyakit. Pemupukkan bisa dilakukan tiga hari sekali, sedangkan hama yang perlu diwaspadai, mulai dari belalang, siput. Sementara untuk penyakit, paling sering berupa busuk akar, daun dan busuk hitam,” tambah Nurul.

Dijelaskan, untuk mencegah penyakit busuk daun atau akar, petani atau penggiat budidaya anggrek harus memperhatikan media tanam yang digunakan hingga penyiraman. “Jangan terlalu sering disiram, sebab kelembaban yang dibutuhkan hanya sekitar 40-80 persen, jika lebih dari itu bisa mengalami pembusukkan,” tandasnya.

Sementara, Tenaga Laboratorium Anggrek dan Kultur Jaringan Dispertan Kota Semarang , Martini, menerangkan untuk budidaya anggrek bisa dimulai dari penggunaan bibit anggrek botolan.

“Kita bisa mengembangkan budidaya daya anggrek melalui jaringan vegetatif seperti akar, daun, batang, dan mata tunas. Bisa juga dengan jaringan generatif, berupa ovule, embrio dan biji. Jaringan tersebut bisa ditumbuhkan, pada media buatan berupa cairan atau padat, secara antiseptic,” paparnya.

Sejauh ini, untuk di Dispertan Kota Semarang, masih sebatas pengembangan melalui jaringan generatif, dengan biji yang dikembangan melalui wadah dalam botol kaca.

“Setelah biji keluar tunas dan berkembang, kemudian harus dipindahkan ke media tanam baru. Proses pemindahan ini, juga berpengaruh pada tumbuh kembang tanaman anggrek,” paparnya.

Dalam proses pemindahan bibit anggrek, ada beberapa hal yang perlu disiapkan. Di antaranya berupa air berisi fungisida, media tanam, hingga pot media tanam.

“Media tanam yang digunakan bisa bermacam-macam, seperti sabut kelapa, arang dan lainnya. Namun untuk permulaan tunas, sebaiknya menggunakan akar kadaka, yakni akar tumbuhan sejenis paku-pakuan. Sebelum digunakan sebaiknya juga direbus dulu, untuk membunuh bakteri, atau gulma yang terkandung didalamnya. Kemudian dijemur hingga kering, bagu digunakan,” ungkapnya.

Sementara, untuk bibit anggrek yang sudah diambil dari wadah botol, sebaiknya direndam dulu dalam cairan fungisida, yang dibuat dari satu liter air diberi setengah sendok teh fungisida.

“Gunanya untuk membunuh jamur, pada tanaman,” lanjutnya.

Setelah itu, masukkan bibit anggrek dalam pot atau polipot, yang sudah diberi akar kadaka secara teratur. “Bisa lebih dari satu 5-6 bibit, nantinya setelah bibit kompot beranjak besar. Dilakukan lagi pemindahan ke pot tunggal. Bibit yang sama besar dipisahkan dari bibit kecil. Masing-masing ditanam tersendiri. Setelah empat bulan, kompot bisa ditanam sebagai seeding,” pungkas Martini.

Lihat juga...