Ini Penyebab Peningkatan Angka Kelahiran dan ‘Stunting’ di Jateng

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Keengganan masyarakat dalam menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP), menjadi salah satu penyebab angka kelahiran atau total fertility rate (TFR) di Jateng, masih tinggi. Ditambah kondisi pandemi Covid-19 , juga semakin menambah ketidakmauan masyarakat, untuk pergi ke fasilitas kesehatan dan ber-KB.

Tidak hanya itu, angka pernikahan dini atau di bawah usia di Jateng, masih tinggi. Tercatat per September 2020, ada 9.443 anak yang mengajukan permohonan dispensasi nikah di Pengadilan Agama Kabupaten/Kota se-Jateng.

Menikah muda, menjadikan rentang usia subur yang relatif lebih panjang. Hal tersebut berbanding lurus dengan usia reproduksi, sehingga angka kelahiran semakin meningkat.

“Ini memang menjadi kendala di lapangan, untuk itu kita berupaya agar persoalan tersebut bisa diatasi. Salah satunya dengan mengoptimalkan peran petugas penyuluh lapangan KB (PLKB). Termasuk juga menjalin kerjasama dengan mitra, seperti melalui TNI Manunggal KB Kesehatan (TMKK), untuk menekan angka kelahiran ini,” papar Kepala BKKBN Perwakilan Jateng, Martin Suanta di Semarang, Jumat (18/12/2020).

Pihaknya pun mendorong masyarakat untuk menggunakan MKJP, sebagai upaya menekan angka kelahiran. Metode ini dinilai jauh lebih efektif dan dipastikan tidak memberi efek samping.

Upaya lain, tambah Martin, BKKBN juga terus memanfaatkan program GenRe untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, serta sikap dan perilaku positif remaja tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi, dalam menyiapkan kehidupan berkeluarga berkualitas.

“Kita dorong para generasi muda ini, untuk menyiapkan kehidupan berkeluarga dengan baik. Setidaknya berusia minimal 21 tahun bagi perempuan dan 26 tahun bagi laki-laki. Dengan kondisi mental yang sudah stabil, ekonomi yang sudah tertata, diharapkan angka kelahiran pun bisa dikelola dengan baik,” terangnya.

Lihat juga...