Ini Syarat Mendapatkan Hibah ‘Matching Fund’ Kemendikbud

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), telah meluncurkan Merdeka Belajar episode 6 tentang transformasi pendanaan bagi perguruan tinggi. Salah satunya berupa hibah matching fund, dalam mendukung program hilirisasi karya reka cipta perguruan tinggi dengan industri.

“Salah satu keuntungan dari matching fund ini, dapat mengurangi potensi kerugian di tahap research and development, dalam proses hilirisasi yang dilakukan perguruan tinggi,” papar Sekretaris Ditjen Dikti Dr Ir Paristiyanti Nurwardani MP,  dalam webinar ‘Strategi Pemenangan Hibah Matching Fund’ , yang digelar Forum Komunikasi (Forkom) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Perguruan Tinggi  (PT) Jateng di kampus UPGRIS Semarang, Selasa (29/12/2020).

Diterangkan, dalam mendukung upaya tersebut pihaknya menganggarkan dana matching fund hingga Rp 250 miliar, yang diperuntukkan secara nasional. Kemendikbud juga  telah menyediakan platform Kedai Reka bagi perguruan tinggi, yang dapat dimanfaatkan perguruan tinggi dalam memilih dan mencari mitra industri atau investor yang tepat.

“Perguruan tinggi dimana saja, boleh ikut serta. Namun ada syarat yang harus dipenuhi, agar mendapatkan dana hibah ini. Salah satunya, harus ada kolaborasi atau kerjasama antara perguruan tinggi dan industri. Ini menjadi syarat wajib untuk mengajukan hibah matching fund,” terangnya lagi.

Lebih jauh dipaparkan, hibah tersebut juga akan diprioritaskan untuk kemitraan yang memiliki dampak terbesar terhadap 8 Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi. Termasuk juga penelitian yang berpotensi, dapat menyelesaikan masalah yang ada di lingkungan masyarakat, serta mampu meningkatkan partisipasi mahasiswa.

Ketua Forkom LPPM PT Jateng Ir Suwarno Widodo, dalam webinar di kampus UPGRIS Semarang, Selasa (29/12/2020). -Foto Arixc Ardana

Sementara, Ketua Forkom LPPM PT Jateng Ir Suwarno Widodo menjelaskan, pihaknya berharap melalui webinar yang diikuti 350 peserta dari seluruh Indonesia tersebut, dapat menambah informasi tentang bagaimana dapat memperoleh hibah seperti cara penyusunan proposal maupun penelitian dalam matching fund.

”Misalnya di UPGRIS, sudah ada tim peneliti yang berhasil menciptakan ventilator berbasis teknologi informasi dan Fakultas Teknik. Bagaimana agar alat ini bisa dikembangkan hingga dihilirisasi dengan kalangan industri. Ada juga hasil penelitian tentang alat permainan edukatif usia dini,  yang saat ini sudah punya mitra industri, bisa dikembangkan lagi,” papar pria yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor IV UPGRIS tersebut.

Suwarno menjelaskan, sejauh ini jumlah PT di Jateng yang sudah menjalin kerjasama dengan kalangan industri, terkait hilirisasi hasil penelitian, masih relatif sedikit. “Kita ingin mendorong, dengan adanya dana hibah matching fund ini, bisa ada semakin banyak PTS dan PTN, yang bisa menjalin kerja sama dan melakukan hilirisasi,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Rektor UPGRIS Dr Muhdi. Diterangkan, sebagai salah satu PTS terbesar di Jateng, pihaknya berharap dengan adanya matching fund tersebut, semakin meningkatkan semangat para dosen dan mahasiswa, dalam melakukan penelitian hingga mencapai hilirisasi bersama mitra industri.

“Harapannya pada 2021 mendatang, penelitian di perguruan tinggi bisa meningkat, terlebih pada saat ini masih ada keterbatasan akibat pandemi Covid-19. Jumlah penerima manfaat juga semakin meningkat,” pungkasnya.

Lihat juga...