Inilah Dua Episentrum Peredaran Narkoba di Jateng

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Wilayah Solo Raya, meliputi Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo hingga Surakarta, menjadi wilayah tertinggi atau episentrum peredaran narkotika di Jateng. Selain itu, kini juga muncul episentrum baru di wilayah Jepara.

“Jadi jika sebelumnya, peredaran tertinggi di wilayah Solo Raya, kita sudah bergeser ke wilayah Jepara. Jadi dari kabupaten tersebut, narkoba didistribusikan ke Kota Semarang dan Solo, kemudian ke wilayah lainnya,” papar Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng, Brigjen Benny Gunawan, di sela kegiatan laporan capaian akhir tahun di kantor tersebut, Jalan Madukoro Semarang, Jumat (18/12/2020).

Diterangkan, sejauh ini, Jepara menjadi favorit karena banyak memiliki pelabuhan tikus, yang digunakan sebagai lokasi penyelundupan hingga jumlah warga negara asing yang menetap di kabupaten tersebut cukup banyak, sebagai sasaran peredaran.

“Termasuk juga sebagai kota industri dan pariwisata, yang potensial sebagai pasar peredaran gelap narkoba. Itu sebabnya, kita sedang usulkan agar segera terbentuk Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Jepara. Tujuannya, agar upaya pencegahan dan rehabilitasi bisa lebih maksimal, harapannya daerah tersebut tidak menjadi episentrum,” lanjutnya.

Sementara dari segi pengungkapan kasus, dibanding 2019 lalu, pihaknya mengakui lebih sedikit pada tahun 2020. Tahun lalu tercatat sebanyak 55 kasus dapat dibongkar, sementara pada tahun ini, ada 21 kasus tindak pidana penyalahgunaan narkoba, dengan jumlah tersangka sebanyak 40 orang.

“Meski tidak setinggi 2019, namun upaya pencegahan dan penindakan terhadap penyalahgunaan narkotika tetap dilaksanakan seoptimal mungkin. Ini juga karena alokasi anggaran BNNP Jateng, sebagian dipindahkan untuk penanganan pandemi Covid-19,” tambahnya.

Namun dirinya menegaskan, bukan hanya sekedar angka, namun yang terpenting, BNNP Jateng bisa menekan peredaran narkotika, memetakan dan memutus peta jaringan, sehingga dapat membongkar kasus yang ada.

“Selain itu, perlu diketahui, mungkin Jateng menjadi wilayah yang paling variatif dalam modus operandi penyelundupan narkotika. Kalau bentuknya seperti umumnya, akan mudah kita ketahui, namun kita berhasil menemukan beragam cara yang dilakukan para pengedar untuk mengelabui petugas,” tegas Benny.

Dirinya mencontohkan modus operandi yang dilakukan mulai dari permen, mencampur ganja menjadi kue brownies, dimasukkan ke dalam microwave hingga cairan ganja.

“Namun berkat kejelian para petugas di lapangan dan kerjasama bersama pihak terkait lainnya, semuanya berhasil kita bongkar,” tegasnya.

BNNP Jateng juga mengenakan tindak pidana pencucian uang, dari hasil bisnis narkotika yang terungkap. Dari lima tersangka di dua kasus, pihaknya berhasil mengamankan uang mencapai Rp1,2 miliar, sebuah rumah, mobil, sepeda motor, hingga perhiasan.

“Posisi Jateng, sebagai lokasi transit atau perlintasan dari Jakarta, Sumatera serta wilayah lain, menjadikan provinsi ini menjadi incaran para pengedar. Untuk itu, kami berharap seluruh instansi dan lembaga yang telah bersinergi dan bekerja sama dengan BNNP Jateng, terus berupaya aktif dalam memerangi penyalahgunaan narkotika,” tandasnya.

Sementara, Koordinator Penyuluh Narkoba BNNP Jateng, Susanto, menambahkan upaya pemberantasan narkotika di Jateng, juga diimbangi dengan upaya pencegahan melalui program Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

“Kita juga lakukan sosialisasi kepada masyarakat, termasuk para generasi muda, pelajar, mahasiswa, karang taruna, tentang bahaya penyalahgunaan narkotika. Ini dilakukan dengan berfokus pada kegiatan pencegahan, agar mereka memiliki pola pikir, sikap untuk menolak penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba,” pungkasnya.

Lihat juga...