Jasa Lukis Dinding di Bekasi Makin Diminati

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Lukis dinding atau mural, sekarang menjadi bisnis kreatif di perkotaan. Permintaan terus berdatangan dari berbagai tempat, bahkan tak jarang dari instansi pemerintah menggunakan jasa mural untuk menghiasi perkantoran, sekolah, rumah, kafe dan tempat barbershop.

Banyaknya peluang pasar pada bisnis seni lukis ini, bagi seniman dengan kemampuan yang beragam menawarkan tarif harga jasa mural bervariasi.

M Fauzan Riad, pemilik bengkel seni di Bekasi Utara, Kota Bekasi, menawarkan harga lukis dinding mulai harga Rp250 ribu/meter persegi, tertinggi Rp500 ribu. Usaha tersebut sudah dilakoninya sejak puluhan tahun silam.

“Jasa lukis dinding saya lakoni sejak puluhan tahun lalu secara sendiri. Sekarang di Kota Bekasi cukup diminati, terutama kafe atau warung-warung tertentu yang minta agar dindingnya dipercantik,” ujar Kang Abeng, nama panggilannya, Selasa (8/12/2020).

Bengkel Seni menawarkan jasa lukis dinding atau mural untuk mempercantik kamar anak, tempat usaha seperti toko, kafe, warung makan dan distro. Bahkan, hingga ke pengecatan kendaraan roda dua pun dilakoninya, seperti airbrush motor.

“Seni rupa sebenarnya tidak terbatas, karena terus berimajinasi untuk menciptakan lukisan baru. Profesi ini jika ditekuni bisa memberi penghasilan lumayan, karena tidak semua orang bisa menjalaninya. Karena itu, tarif juga disesuaikan dengan tingkat kesusahan,”ujarnya.

Banyak model lukisan dinding sekarang seperti tiga dimensi atau animasi. Untuk kafe biasanya lettering atau tulisan dan gambar menu yang disajikan. Untuk Kota Bekasi, saat ini banyak muncul kafe baru atau tempat usaha yang ingin mempercantik tempat usahanya bernilai seni.

“Banyak pesanan di Kota Bekasi, seperti tempat usaha sekarang. Kalau pemerintah masih belum, tidak seperti di kabupaten,  pemerintah daerah seperti Cikarang, Jakarta, banyak kampung yang dimural,” tandas pria asli Cirebon tersebut.

Fauzan Riad, mengaku sudah menyukai dunia lukis sejak usia sekolah dasar. Dia pun mengaku mengembangkan bakat dengan otodidak seperti latihan sendiri di rumah dengan berbagai media. Hingga akhirnya tidak hanya dinding yang bisa dilukis, tetapi seperti patung, dan lainnya.

Ia mengungkapkan keinginan untuk bakti sosial seperti pengecatan pilar dan tiang masjid, agar lebih terkesan indah. Tapi, diakuinya untuk dana kekurangan.

Lihat juga...