Jelang Nataru, Waspadai Peredaran Uang Palsu

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2021, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terkait peredaran uang palsu (upal). Terlebih, berdasarkan catatan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng, jumlah upal yang berhasil diungkap terus meningkat dari tahun ke tahun.

Bahkan pada saat pandemi Covid-19 sekarang ini, angkanya meningkat hingga 18,8 persen. Pada 2019 lalu, jumlah upal yang disita mencapai 17 ribu lembar, sementara pada tahun 2020, sebanyak 28 ribu lembar.

“Modus peredaran upal setiap tahun, juga terus mengalami perubahan dan kemajuan. Untuk itu, kita berharap masyarakat untuk lebih berhati-hati, pastikan memeriksa uang yang diterima asli. Termasuk saat mengambil uang di ATM, pastikan untuk memeriksa uang tersebut, agar bisa dipastikan keasliannya,” papar Kepala Grup Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah (PUR), Layanan dan Administrasi KPw BI Jateng, Andry Prasmuko, di kantor KPw BI Jateng, Semarang, Rabu (23/12/2020).

Tidak hanya itu, dengan masih adanya pandemi Covid-19, pihaknya berharap masyarakat juga tetap mentaati anjuran pemerintah, terkait protokol kesehatan.

“Kita mengimbau kepada masyarakat, agar tetap memperhatikan protokol kesehatan saat menarik uang dari mesin ATM Perbankan. Termasuk mengimbau untuk mengurangi penggunaan transaksi uang tunai, dan beralih kepada transaksi non tunai,” lanjutnya.

Langkah tersebut, tidak hanya untuk menghindari adanya upal, juga menjadi upaya untuk menjaga dari penularan virus Covid-19.

“Apalagi sekarang ini Bank Indonesia, juga sudah memperkenalkan layanan QR Code Indonesian Standard (QRIS), sebagai standarisasi pembayaran digital menggunakan metode QR Code. Dengan satu QR Code, bisa menerima pembayaran dari aplikasi penyelenggara manapun, jadi lebih mudah,” tegasnya.

Sementara, Pj Kepala Perwakilan KPw BI Jateng, Pribadi Santoso, menjelaskan jelang Natal dan Tahun Baru 2021, pihaknya memperkirakan kebutuhan uang kartal di wilayah KPw BI Jateng justru mengalami penurunan, sekitar 45% dibandingkan tahun lalu.

“Hal ini disebabkan karena adanya pandemi Covid 19, yang menyebabkan daya beli masyarakat menjadi berkurang. Serta imbauan dari pemerintah, untuk mengurangi transaksi tunai dan beralih menjadi non tunai sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran Covid 19. Tercatat, selama periode Januari sampai dengan November 2020 KPwBI Jateng, telah mengeluarkan Uang Kartal sebesar Rp 27,725 triliun,” terangnya.

Meski demikian, pihaknya tetap menyiapkan uang kartal sebesar Rp 11,465 triliun, untuk mencukupi kebutuhan masyarakat di Jateng, selama Nataru.

“Untuk wilayah Semarang dan sekitarnya, kita sudah siapkan uang kartal sebesar Rp 4,188 triliun. Jika ditotal seluruh Jateng, yang membawahi KPwBI Tegal, Solo dan Purwokerto, kita siapkan uang kartal sebesar Rp 11,465 triliun,” terang Pribadi.

Bank Indonesia dan Perbankan juga bersinergi dan bekerja sama untuk melakukan pendistribusian uang kartal, yang layak edar di wilayah KPwBI Provinsi Jawa Tengah dalam bentuk fasilitas penukaran uang yang dilakukan oleh Perbankan masyarakat umum.

“Hal ini, dilakukan guna memenuhi kebutuhan uang rupiah dalam jumlah yang cukup, jenis pecahan yang sesuai dan dalam kondisi yang layak edar. Meski tahun ini kita tidak melayani penukaran secara langsung, karena pandemi Covid-19, namun masyarakat tetap bisa menukarkannya di perbankan terdekat,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga meminta kepada masyarakat, yang masih memiliki pecahan uang kertas rupiah tahun emisi 1968, 1975 dan 1977 ,untuk dapat menukarkannya.

“Penukaran dilayani hingga batas waktu tanggal 28 Desember 2020. Setelah itu, tidak bisa lagi. Jadi kami minta, yang masih menyimpan dan ingin menukarkan, untuk segera mungkin sebelum batas akhir penukaran,” pungkasnya.

Lihat juga...