Kadis Kesehatan Sikka Diteror Orang yang Mengaku Jaksa

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Setelah Kejaksaan Negeri (Kejari) Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) menetapkan dan menahan 2 tersangka kasus korupsi pembangunan Puskesmas Bola, Kecamatan Bola, banyak pihak di Dinas Kesehatan (Dinkes) Sikka mendapat telepon dari sejumlah oknum.

Penelepon mengaku salah seorang jaksa dan Kepala Kejaksaan (Kajari) Sikka serta jaksa di Pengadilan Tipikor Kupang dan menelepon beberapa staf di dinas tersebut yang menangani proyek tersebut.

“Saya mendapat telepon tiga hari berturut-turut dari oknum yang mengaku teman-teman di Kejaksaan Negeri Sikka,” kata Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan, Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus saat ditanyai Cendana News, Sabtu (19/12/2020).

Petrus katakan, ada oknum yang menelepon mengaku bernama jaksa Rizki dan menyerahkan telepon genggam kepada orang yang dikatakannya pak Kajari yang ingin berbicara dengannya.

Dijelaskannya, oknum yang mengaku Kajari Sikka tersebut katakan kepadanya apa bisa bertemu dirinya lalu dia katakan Pak Kajari akan mengundangnya untuk besok hadir ke kantor Kejaksaan Negeri Sikka.

“Saya tanyakan kapan mau bertemu lalu dijawab oknum yang mengaku Kajari tersebut besok kita ketemu. Saya katakan, pak Kajari kan undang saya besok hadir di kantor kejaksaan. Lalu tiba-tiba sambungan telepon diputus,” ungkapnya.

Petrus menyebutkan, oknum tersebut belum menyampaikan maksudnya menelepon dirinya dan dia pun mengecek ke kantor Kejaksaan Negeri Sikka ternyata tidak ada jaksa yang bernama Rizki.

Dia tegaskan ini modus penipuan karena setelah adanya penanganan kasus korupsi ini, dirinya pernah 3 kali mendapatkan telepon diaman dua kali telepon sebelumnya mengaku staf Pengadilan Tipikor.

“Sebelumnya oknum tersebut mengaku salah satu jaksa Pengadilan Tipikor tetapi tidak menyebut nama. Ada banyak staf di tim teknis, pejabat pengadaan, panitia PHO dan bendahara Dinas Kesehatan juga mendapatkan telepon dari oknum tidak dikenal ini,” ucapnya.

Petrus mengingatkan bawahannya agar tidak usah melayani para penelpon tersebut karena itu modus penipuan dan dia pun meminta stafnya agar melaporkan kepadanya bila mendapatkan telepon dari orang yang mengaku jaksa.

“Saat awal mau penanganan Covid-19 saya mendapatkan telepon sebanyak 9 kali dengan meminta tranfer sejumlah uang karena beralasan alat rapid test dan PCR akan dikirim. Saya sudah terbiasa menghadapi para penipu seperti ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sikka, Fahmi,SH yang ditemui di kantornya meminta agar para saksi dan pihak yang menjalani pemeriksaan terkait kasus korupsi pembangunan Puskesmas Bola untuk tidak melayani oknum yang mengaku dari kejaksaan.

Fahmi menyebutkan, saat penanganan sebuah kasus korupsi banyak oknum yang mengaku jaksa dan Kajari selalu menelepon saksi dan keluarga tersangka untuk meminta sejumlah uang.

“Kalau di kota-kota besar modus penipuan seperti ini sudah biasa dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Saya saat baru menjabat Kajari Sikka pun ada oknum yang menelepon sejumlah orang meminta uang,” ujarnya.

Fahmi meminta agar para saksi dan keluarga tersangka bila mendapatkan telepon segera melaporkan kepada pihaknya dengan datang dan bertanya ke kantor Kejaksaan Negeri Sikka.

Lihat juga...