Kaos Ngapak Tetap Bertahan di Tengah Pandemi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PURWOKERTO — Di tengah pandemi Covid-19, banyak usaha yang mengalami penurunan omset, bahkan sampai gulung tikar, terlebih untuk sektor usaha yang bergantung pada kunjungan wisata. Berbeda dengan kaos Ngapak khas Banyumas, tetap mampu bertahan, bahkan sama sekali tidak ada pengurangan karyawan.

Pemilik Kaos Ngapak, Pujianto di kios Purwokerto, Selasa (15/12/2020). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

Pemilik Kaos Ngapak, Pujianto atau lebih dikenal Puji Ngapak mengatakan, ia mulai terjun di bisnis kaos sejak masih menjadi mahasiswa, yaitu tahun 2011. Awal memulai, ia mengakui masih lemah pada desain kaos dan perkembangan di awal sangat lamban.

“Pertama memulai, omset sangat sedikit, namun berlahan mulai naik dan sekarang kita sudah memiliki lima outlet, yaitu di Banyumas ada dua, kemudian di Kabupaten Purbalingga, Cilacap dan Kebumen,” jelasnya, Selasa (15/12/2020).

Dari lima outlet kaos ngapak, masing-masing mempunyai ciri khas tersendiri yang disesuaikan dengan icon masing-masing kabupaten. Misalnya untuk oullet di Cilacap, gambar didominasi seputar tempat wisata di Cilacap, untuk Banyumas dan purbalingga juga demikian.

Dari empat outlet tersebut, penjualan paling bagus di Banyumas, disusul Cilacap, Kebumen dan Purbalingga. Menurut Puji, bisnis kaos khas sangat dipengaruhi nuansa wisata setempat. Dimana jika ada destinasi wisata yang besar dan dikenali luas, maka perkembangan produk khas daerah akan mengikutinya.

“Misalnya saja di Bali ada kaos Joger, omsetnya sangat besar, wisatawan datang ke Bali tujuannya tidak hanya berwisata saja, tetapi juga untuk membeli produk Joger. Nah, di Banyumas nuansanya belum sampai ke sana, wisatawan datang masih sebatas untuk mengunjungi Baturaden ataupun tempat wisata lainnya dan belum mempunyai tujuan untuk membeli produk-produk khas lokal, seperti kaos,” terangnya.

Untuk bisa bertahan dengan adanya penurunan omset penjualan selama pandemi, Puji mengaku melakukna inovasi dengan membuat produk-produk yang dibutuhkan selama pandemi. Misalnya masker dan alat pelindung diri (APD) lainnya. Hasil penjualan dari produk tersebut yang mampu menopang biaya produksi serta gaji pegawai.

“Untuk penjualan kaos ngapak di tengah pandemi Covid-19 jelas mengalami penurunan omset, bahkan sampai 40 persen. Tetapi kita berusaha bertahan dengan melakukan ekpansi usaha lainnya, yaitu yang dibutuhkan di masa pandemi ini, sehingga semua masih bisa bertahan,” tuturnya.

Inovasi tersebut tak hanya membuat Puji tetap bisa mempertahankan seluruh karyawannya yang berjumlah 21 orang, tetapi juga mampu meningkatkan omset pendapatan.

Sementara itu, salah satu penggemar kaos ngapak, Purwanto mengatakan, bahan kaos kualitasnya cukup bagus dan desain dari kata-kata ngapak juga cukup kreatif. Sehingga sebagai orang Banyumas, ia bangga mengenakan kaos tersebut.

“Saya punya beberapa koleksi kaos ngapak dan beberapa kali teman dari luar kota juga minta dikirimi karena kualitasnya bagus,” ucapnya.

Lihat juga...