Kebutuhan Garam Dalam Negeri Masih Disokong Impor

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Walaupun Indonesia memiliki lautan yang sangat luas, namun hingga saat ini kebutuhan garam masih disokong oleh impor garam. Padahal, dengan menggunakan teknologi, kualitas garam dan nilai tambah bisa didapatkan.

Kepala Bidang Riset Teknologi Kelautan, Pusat Riset Kelautan (Pusriskel), Dr. Ifan Ridlo Suhelmi, M.Si., memaparkan kebutuhan garam nasional tercatat pada 2019 adalah 4,2 juta ton, dan meningkat menjadi 4,5 juta ton pada 2020. Sementara, produksi garam rakyat hanya 2,5 juta ton dengan hanya 30 persen yang memiliki kualitas sesuai SNI.

“Jika melihat data tersebut, jelas kualitas dan kuantitas produksi garam rakyat masih kurang. Maka, kami melakukan riset bagaimana untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas melalui pemanfaatan teknologi purifikasi,” kata Ifan, dalam acara online, Senin (28/12/2020).

Teknologi Purifikasi ini, menurutnya hanya salah satu dari upaya untuk membangun ekonomi masyarakat melalui penambahan nilai pada produksi garam para petambak.

“Purifikasi ini memiliki dua sistem. Mekanis dan rekristal. Dengan tujuan utama untuk meningkatkan kualitas garam yang kandungan NaCl saat ini hanya kurang dari 88 persen, menjadi lebih dari 94 persen,” ucapnya.

Selain itu, lanjutnya, teknologi purifikasi ini memungkinkan potensi peningkatan produksi garam hingga 2 ton per hari.

“Dengan peningkatan kandungan NaCl ini, maka jika dipasarkan akan ada peningkatan harga dari Rp500 per kilogram menjadi Rp1.000 per kilogram,” ujar Ifan.

Sistem purifikasi mekanis, urainya, adalah suatu proses pemurnian yang dilakukan dengan cara mengecilkan butiran kristal disertai pencucian dengan brine. Atau dikenal dengan sebutan hydromill.

“Sistem rekristal adalah pemurnian yang dilakukan dengan melarutkan garam krosok, lalu dikristalkan kembali. Bisa menggunakan spray dryer atau bisa juga dengan direbus,” urainya.

Lihat juga...