Kelezatan Kuah Kuning Rawon Khas Tegal

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Rawon khas Tegal, Jawa Tengah yang berkuah kuning mirip gulai ini dapat menjadi pilihan kuliner nusantara. Kelezatan kuliner ini dapat menggugah selera makan penikmatnya, apalagi disantap hangat-hangat.

“Rawon khas Tegal ini, warna kuahnya kuning kental karena diberi santan dan gula Jawa,” ujar Maysaroh, pedagang warung makan Berkah, saat ditemui di warungnya di Jakarta Timur, Sabtu (19/12/2020).

Menurutnya, rawon khas Tegal inj berbeda dengan rawon khas Surabaya, Jawa Timur yang berkuah hitam karena menggunakan keluwek dengan penyajian berpadu toge, dan telur asin.

Penyajian rawon khas Tegal ini dipadukan dengan peyek udang, sambal terasi, jeruk nipis, dan bawang goreng.

Bahan utama rawon khas Tegal ini adalah tetelan daging sapi dan jeruan daging sapi, seperti babat. Adapun yang disiapkan untuk memasak rawon ini, adalah bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, kunyit, jahe, lengkuas, merica, dan cabai.

Menurutnya, cara pembuatan rawon khas Tegal ini cukup mudah. Pertama telelan dan jeroan daging sapi direbus hingga empuk.

Setelah matang, lalu tetelan dan jeroan itu dipotong kecil-kecil. Sedangkan air rebusan bisa dijadikan kaldu. Bumbu pelengkap yang telah disiapkan yang telah diulek halus, lalu tumis dan masukkan daun sirih, daun jeruk dan sereh. Tumisan bumbu rempah itu aduk rata hingga warna kekuningan beraroma harum.

Kemudian masukkan bumbu tersebut ke dalam air kaldu, dan masukkan potongan tetelan dan jeroan daging sapi itu. Aduk merata sampai mendidih

“Kelezatan rawon ini pada bumbu rempah yang lengkap. Satu porsinya Rp15.000, lengkap dengan nasi putih yang ditaburin tepung krispi. Untuk penyek udangnya, beda lagi harga satuannya Rp50.00,” ujarnya.

Maysaroh menyajikan Rawon Khas Tegal untuk pembeli di warungnya di Kelurahan Kampung Baru, Jakarta Timur, Sabtu (19/12/2020). Foto: Sri Sugiarti

Rawon khas Tegal ini menurutnya, sangat tepat disantap dalam berbagai suasana. “Bisa untuk sarapan pagi, atau malam. Dalam kondisi musim hujan juga sangat cocok ya, bisa jadi penghangat tubuh,” tukasnya.

Dalam kondisi pandemi Covid-19 ini, dia mengaku terdampak omzetnya menurun. Tapi dia tetap bersyukur karena setiap harinya masih ada pelanggan yang membeli rawon khas Tegal ini.

“Omzet 50 persenan turun, ya disyukurin saja.Triknya dikurangi saja jangan terlalu banyak memasaknnya, tapi kualitas rasa tetap dijaga,” imbuh wanita kelahiran Tegal, 48 tahun ini.

Pandu Dirtha, salah satu pembeli mengaku sangat menyukai kuliner khas Tegal ini. Karena tekstur tetelan dan jeroan daging sapinya terasa empuk tidak alot saat disantap.

Apalagi menurutnya, kuah rawon kekuningan yang kental sangat terasa rempah-rempahnya.

“Disantap dalam kondisi hangat, rawon ini terasa lezat banget. Kadang saya nambah, rawonnya saja tanpa nasi. Harganya juga terjangkau ya,” ujar Pandu.

Lihat juga...