Kemandirian Industri Berbasis LTJ Perlu Dukungan Pemerintah

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Peluang Indonesia untuk memasuki kancah pertarungan Logam Tanah Jarang (LTJ) sangat besar. Mengingat potensi cadangan terbentang di sepanjang pesisir utara Sumatera. Hanya tinggal menunggu keseriusan pemerintah dalam mendukung pengelolaannya dan menjadikannya sebagai penyokong kemandirian industri Indonesia.

Peneliti Utama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto saat dihubungi, Selasa (15/12/2020) – Foto Ranny Supusepa

Peneliti Utama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto menyebutkan penelitian yang selama ini dilakukan, memasuki tahap berikutnya dengan membangun Pilot Plant LTJ Hiroksida.

“Dengan bekerja sama dengan PT Timah, beberapa waktu lalu sudah dibangun Pilot Plant yang mengolah pasir monasit menjadi LTJ Hidroksida. Tapi tentunya tidak bisa berhenti disini saja karena yang diharapkan industri adalah LTJ yang sudah terpisah, untuk menunjang industri Indonesia dan juga untuk ekspor,” kata Djarot saat dihubungi, Selasa (15/22/2020).

Ia menjelaskan pilot plant ini akan menjadi acuan pabrik komersial skala industri.

“LTJ ini berkaitan dengan berbagai industri. Otomotif, elektronik, magnet, komputer hingga untuk alat pertahanan. Sehingga, jika Indonesia mampu untuk mengoptimalkan LTJ ini maka akan terbentuk kemandirian nasional,” ucapnya.

Djarot menegaskan bahwa BATAN saat ini sudah memiliki teknologi untuk memisahkan LTJ Hidroksida ini. Tapi untuk menjadikannya skala industri tentunya membutuhkan dukungan pemerintah.

“Pemerintah cenderung crash program. Undang investor segera bangun pabrik mereka, langsung ekonomi berputar. Mengingat butuh biaya besar utk membangun pabrik pemisahan LTJ juga,” ucapnya.

Ia juga menyampaikan pemerintah juga harus mempercayai kemampuan SDM dalam negeri dalam mengembangkan LTJ ini.

“Kalau pilot plant dikembangkan ke skala komersial dengan biaya swasta atau pemerintah, kalau mampu, maka pemisahan LTJ dari pasir monasit serta pemisahan masing-masing unsur mampu mendukung kemandirian Indonesia. Namun bisa jadi swasta nasional dan pemerintah tak punya uang maka PMA lah yang masuk,” ungkapnya.

Ia menyatakan kekhawatiran akan terjadi pengambilan SDA LTJ oleh PMA itu ada.

“Tetapi pemerintah setelah era reformasi itu cenderung berfikir pragmatis jangka pendek. Jadi cepet selesai, ada hasilnya meskipun investasi asing. Sehingga, harus ada keberpihakan pemerintah ke dalam negeri demi masa depan yang lebih sustain dan mandiri,” ucapnya.

Ia berucap pemerintah dapat membangun pabrik skala komersial dengan investasi dalam negeri.

“Berikan insentif bagi investor tersebut. Berikan perlindungan hukum sehingga swasta dalam negeri nyaman bergerak,” tandasnya.

Direktur Utama PT Timah (persero) Tbk. Mochtar Riza Pahlevi Tabrani menyatakan PT Timah sangat mendukung upaya pengembangan LTJ ini.

“Dengan dukungan penelitian BATAN , harapannya bisa segera mengoptimalkan pemanfaatan mineral ikutan yang berasal dari pasir monasit untuk menjadi LTJ,” kata Riza saat dihubungi terpisah.

Ia menyatakan TINS (red : kode PT Timah di pasar modal) akan terus mendukung pengembangan LTJ.

“Mulai dari pengumpulan data sumber daya yang berasal dari kegiatan eksplorasi, hingga bekerja sama dalam memastikan keberlanjutan industri ini,” pungkasnya.

Lihat juga...