Kemenkop UKM Beri Penguatan Modal Kerja dengan Pembiayaan Syariah

Editor: Koko Triarko

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Mikro (Menkop UKM), Teten Masduki, pada diskusi bertajuk 'Memperkuat Digitalisasi Ekonomi Berbasis Masjid', yang digelar Badan Pengelola Masjid Istiqlal secara virtual di Jakarta, Selasa (8/12/2020). -Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA – Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM), berkomitmen mengembangkan program untuk mendukung ekonomi syariah era digital di Indonesia, khususnya bagi Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM).

“Pengembangan KUMKM, kami beri penguatan modal kerja dan investasi melalui pembiayaan syariah, dengan sistem bagi hasil 30-70 persen,” ujar Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Mikro (Menkop UKM), Teten Masduki, pada diskusi bertajuk ‘Memperkuat Digitalisasi Ekonomi Berbasis Masjid’, yang digelar Badan Pengelola Masjid Istiqlal secara virtual di Jakarta, Selasa (8/12/2020).

Pembiayaan syariah bagi KUMKM tersebut disalurkan oleh Lembaga Pengelolaan Dana Bergulir Koperasi, Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM).

“Sejak 2008 hingga 2020, telah tersalurkan melalui pola pembiayaan syariah sejumlah Rp2,34 triliun,” tambah Teten.

Begitu juga dengan pengembangan BMT (Baitul Maal wa Tamwil). Yang berdasarkan data Online Data Sistem (ODS) Kemenkop UKM  per 30 Juni 2020, BMT sejumlah 4.115 unit, meningkat sebesar 51.34 persen dari 2017 sebanyak 2.719 unit.

Lebih lanjut dia menjelaskan, Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) juga menjadi fokus utama implementasi pengembangan ekonomi syariah di sektor riil.

Apalagi, kegiatan Kopontren tersebut banyak melibatkan generasi muda untuk mengembangkan diri mereka menjadi santripreneuer atau santri yang memiliki jiwa kewirausahaan. Dan, berdasarkan ODS Kemenkop UKM per 30 Juni 2020, jumlah Kopontren 2.428 unit dengan jumlah anggota 90.044 orang.

“Kopontren ini dapat menjadi pusat pengembangan koperasi pangan,” ujarnya.

Teten pun mencontohkan, model bisnis di Kopontren Al-Ittifaq, Kabupaten Bandung. Model bisnisnya, petani/pekebun menjadi anggota Kopontren.

Begitu juga Kopontren Al-Ittifaq yang telah terhubung dengan pembiyaan dari LPDB membeli produk petani/pekebun dan UMKM.

Dia menyebut, Kopontren memiliki peran dalam pengemasan dan quality control dari produk sayur-mayur dan mengatur masa tanam.

Kopontren juga melakukan fungsi distribusi suplai ke retail besar,  bahkan pasar ekspor.

Selain itu, tambah dia, dapat juga berperan sebagai pusat pendidikan dan inkubasi bisnis yang menciptakan generasi pengusaha muda.

Teten mendorong masjid dapat melakukan fungsi inkubasi bisnis dengan menumbuhkan mosquepreneur berbasis teknologi dan inovasi.

Dia juga mengingatkan, bahwa transformasi ke arah ekonomi digital telah menjadi kebutuhan, termasuk untuk mengembangkan ekonomi umat berbasis masjid.

Menurutnya, digitalisasi dapat menjadi peluang, sekaligus tantangan ke depan dan membawa semangat untuk memfungsikan masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, namun juga pusat ekonomi umat.

“Peran masjid bisa menjadi pusat ekonomi umat, yang tentu akan membangkitkan kesejateraan para pelaku KUMKM,” pungkasnya.

Lihat juga...