Kementan Optimis Kopi Indonesia Jadi Andalan Dunia

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo menilai, hasil produksi kopi Indonesia merupakan salah satu yang terbaik di dunia, bahkan beberapa di antaranya sudah mulai populer, seperti Kopi Gayo, Toraja, Preanger, Kintamani dan Bejawa.

“Meskipun ada kopi jenis Geisha Panama, Blue Mountain, dan sebagainya, tapi kopi Indonesia memiliki cita rasa tersendiri. Iklim tropis negara kitalah yang membuat produk kopi yang dihasilkan memiliki tingkat keasaman serta aroma yang pas,” ujar Mentan dalam siaran pers yang diterima Cendana News, Senin (28/12/2020) di Jakarta.

Syahrul juga menyatakan, bahwa produksi kopi Indonesia memiliki peluang yang sangat besar, terutama dalam memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Hal itu telah dibuktikan oleh Kopi Luwak Cikole Bandung, yang berhasil memasuki pasar Inggris, Italia, Belanda, Jerman, Cina, Jepang, Korea, Uni Emirat Arab, Singapura, dan Malaysia.

“Kita harus menjadikan kopi Indonesia sebagai kopi andalan dunia. Oleh karena itu kita harus persiapkan segala sesuatunya. Mulai dari lahan dan bibit yang lebih ungul, kemudian riset-riset yang baik, begitu juga budi dayanya dan proses lainnya, sehingga kualitas kopi kita semakin terhebat di dunia,” katanya.

Kopi sendiri, sambung Syahrul, sudah menjadi gaya hidup terutama bagi kalangan milenial di Indonesia. Kafe-kafe yang menjajakan kopi mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dan penuh oleh kalangan milenial.

“Menurut Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) pertumbuhan usaha kedai kopi tahun 2019 diprediksi mencapai 15 sampai 20 persen, naik jika dibandingkan dengan 2018 yang hanya mencapai 8 persen sampai 10 persen. Kontribusi kedai kopi terhadap serapan kopi produksi dalam negeri mencapai 25 persen sampai 30 persen. Angka tersebut diprediksi terus naik ke level 35 persen sampai 40 persen,” jelas Syahrul.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyono mengungkapkan, luas areal kopi di Indonesia saat ini mencapai 1,2 juta ha dan 96 persen merupakan perkebunan rakyat.

“Jawa Barat memiliki kopi spesial yaitu Java Preanger, dan didominasi oleh jenis kopi Arabika yang luas areal kopinya di Jawa Barat seluas 44 ribu ha dan produksi per tahun sebesar 20 ribu ton,” ungkapnya.

Kasdi menambahkan bahwa, total serapan kopi dalam negeri diprediksi mencapai 300.000 sampai dengan 350.000 ton, dari total produksi nasional 760 ribu ton.

“Kami di Kementan mempunyai program Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah dan Daya Saing Perkebunan (GRASIDA), kita akan mendukung program tiga kali ekspor (Gratieks). Semoga akan terus berhasil,” pungkasnya.

Lihat juga...