Lebaran CDN

KNEKS: Pemahaman Literasi Keuangan Syariah Masih Rendah

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Pemahaman ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia belum menjadi gerakan nasional. Sehingga  pemahaman literasi masyarakat tidak signifikan, masih berada di angka 8,93 persen.

Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Sutan Emir Hidayat mengatakan, literasi keuangan syariah di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan keuangan konvensional.

Berdasarkan hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK), literasi keuangan syariah naik menjadi 8,93 persen pada 2019, dari sebelumnya 8,1 persen pada periode tahun 2018

Sedangkan literasi keuangan konvensional meningkat lebih signifikan dari 29,5 persen pada tahun 2018 naik menjadi 37,72 persen pada 2019.

“Pemahaman literasi keuangan syariah masih rendah, naik sedikit dari 8,1 persen tahun 2018 ke angka 8,93 pada tahun 2019. Diharapkan naik 25 persen di tahun 2021,” ujar Sutan, kepada Cendana News, saat dihubungi, Kamis (17/12/2020).

Untuk meningkatkan literasi tersebut, KNEKS menurutnya, telah melakukan kompetisi brand ekonomi syariah. Sehingga diharapkan pada tahun 2021 dapat menyentuh angka 25 persen di 2021, dan 48 persen pada 2024.

“Kalau saat ini kan 8,93 persen. Itu artinya cuma 9 orang yang paham dengan baik keuangan syariah, jauh tertinggal dengan konvensional 38 persen,” tukasnya.

Padahal menurutnya, populasi umat muslim di Indonesia sangat besar. Maka seharusnya 85 persen hingga 87 persen, umat muslim Indonesia dapat memahami ekonomi dan keuangan syariah.

Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah yakni menurut Sutan, disebabkan oleh penggunaan istilah dan bahasa yang sulit dipahami.

Sehingga diharapkan dengan branding keuangan syariah dengan bahasa dapat  meningkatkan literasi ekonomi dan keuangan syariah di masa mendatang.

Dengan adanya branding, Sutan optimis pertumbuhan ekonomi syariah lebih pesat hingga dapat membuka peluang meningkatkan investasi

“Kalau pemahaman masyarakat meningkat, tentunya berdampak pada peningkatan transaksi produk halal. Karena mereka telah sadar pentingnya gaya hidup halal dalam kehidupan,” imbuhnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, ekonomi dan keuangan syariah belum menjadi gerakan nasional, sehingga pertumbuhan literasinya tidak signifikan.

Sehingga dengan kompetisi branding, diharapkan dapat menyatukan gerakan ekonomi syariah di Indonesia. “Ya harapannya, indek literasi meningkat dan lebih inklusi bagi masyarakat luas,” tandasnya.

Karena menurutnya lagi, tanpa adanya branding, dipastikan perkembangan keuangan syariah di Indonesia akan lambat.

“Tumbuhnya lambat kan dampak dari kurangnya pemahaman masyarakat terhadap ekonomi dan keuangan syariah. Kalau mereka nggak paham, ya gimana mau sadar dan minat untuk menerapkan dalam kehidupannya,” pungkasnya.

Lihat juga...