Kontraktor dan PPK Jadi Tersangka Pembangunan Puskesmas di Sikka

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Kejaksaan Negeri (Kejari) Sikka, Nusa Tenggara Timur  (NTT) menetapkan dan menahan dua tersangka dalam kasus pembangunan Puskesmas Bola, Kecamatan Bola, yang dibangun dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2019 senilai Rp3,9 miliar.

Penetapan tersangka dan penahanan terhadap DDK selalu kontraktor pelaksana dan DAB selalu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dilakukan setelah pihak Kejari Sikka melakukan pemeriksaan terhadap 20 orang saksi dan 3 saksi ahli.

“Tersangka DDK ditahan 3 Desember 2020 sementara tersangka DAB ditahan tanggal 8 Desember 2020. Keduanya sementara kami titipkan di tahanan Polres Sikka,” kata Kepala Kejaksaan Negeri Sikka, Fahmi, SH dalam konferensi pers di kantor Kejari Sikka, Kota Maumere, Kamis (10/12/2020).

Fahmi menyebutkan, kedua tersangka ditahan setelah Kejari Sikka dalam penyidikan menemukan dugaan adanya niat jahat dari keduanya untuk melakukan perbuatan melawan hukum yang menyebabkan negara mengalami kerugian Rp540 juta.

Ia menjelaskan, kasus ini ditangani sejak tahun 2019 dan memang prosesnya berjalan lambat sebab pihaknya harus berhati-hati dan terbentur dengan pandemi corona.

“Setelah dilakukan gelar perkara kami menemukan kedua tersangka ini yang paling bertanggungjawab dalam proyek pembangunan Puskesmas Bola ini. Kasus ini kami tangani berdasarkan informasi dari masyarakat dan berkoordinasi dengan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP),” ucapnya.

Fahmi menambahkan, Kejari Sikka juga sedang mendalami kasus ini sesuai dengan proses hukum yang berlaku dan terkait adanya informasi di masyarakat soal dugaan aliran dana tersebut dirinya katakan bisa saja ada Pulbaket terkait informasi ini.

Ia menjelaskan, dugaan kerugian negara dalam kasus ini merupakan temuan Inspektorat Daerah (Irda) Kabupaten Sikka dan dirinya pun meminta agar pertanyaan media jangan terkait materi perkara termasuk aliran dana.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Sikka, Jeremias Pena, SH mengakui kasus pembangunan Puskesmas Bola  ini bukan ditemukan oleh APIP tetapi berdasarkan informasi dari masyarakat.

Jeremias mengaku setelah menerima laporan dari masyarakat tersebut pihaknya pun kemudian melakukan Pengumpulan Bahan dan Keterangan (Pulbaket) hingga berujung terhadap penetapan 2 tersangka.

“Setelah ditelusuri ternyata kita temukan ada unsur Perbuatan Melawan Hukum (PMH), ada mens reanya. Setelah kita lakukan Pulbaket, APIP kemudian kita libatkan untuk menghitung nilai kerugian negara dalam kasus ini,” sebutnya.

Lihat juga...