Koperasi Damandiri Paling Siap Hadapi ‘Fintech’

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

Untuk kategori pertama, bisa dibilang sangat siap menghadapi fintech, bahkan hal tersebut sudah menjadi kebutuhan bagi mereka. Namun untuk kategori kedua, masih cenderung untuk mempertahankan pola-pola konvensional.

“Jika dipersentase di Kabupaten Banyumas, baru 30 persen koperasi yang termasuk kategori pertama dan sudah siap menghadapi fintech,” katanya.

Meskipun begitu, Arsad mengaku optimis akan semakin banyak koperasi yang siap, karena kondisi pandemi Covid-19 mau tidak mau memaksa orang untuk lebih akrab dengan teknologi. Dan ini menjadi daya dorong tersendiri untuk penerapan fintech, tinggal bagaimana kondisi dan lingkungan sekitar memberikan stimulan.

“Saya pernah menyampaikan hal tersebut kepada kalangan akademisi, saya mengusulkan agar dilakukan penelitian terkait perilaku migrasi masyarakat terhadap konsumsi teknologi di tengah pandemi ini. Apakah ini bersifat permanen atau temporer? Sebab ke depan akan sangat berpengaruh terhadap prototipe bisnis. Jika fenomena ini permanen, maka bisnis gerai atau pun persewaan kios dan toko-toko sudah tidak relevan lagi mendatang. Hal ini penting untuk diketahui melalui penelitian yang berbasis data. Karena kami, pelaku koperasi berada di dalamnya. Koperasi merupakan salah satu pemain bisnis yang harus paham akan kondisi sekarang serta prediksi ke depan,” ungkapnya.

Koperasi Utama Sejahtera Mandiri Cilongok sendiri, saat ini jumlah keanggotaannya sudah mencapai 800 orang lebih. Manajer Keuangan Koperasi, Meta Teja Ningrum mengatakan, jumlah keanggotaan koperasi mengalami peningkatan setelah banyak dilakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.

“Keanggotaan koperasi terus bertambah dan sudah mencapai 800 orang lebih, karena masyarakat desa sudah mulai memahami akan manfaat berkoperasi bagi mereka,” pungkasnya.

Lihat juga...