Kunjungi Flores, Wisatawan Mencari Pesona Kearifan Lokal

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Banyak wisatawan asing terutama wisatawan Eropa yang berkunjung ke beberapa wilayah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) sebenarnya ingin melihat kehidupan masyarakat yang sederhana, selain keindahan alam.

Penetapan Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi pariwisata premium memang berdampak terhadap peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi apa yang dipikirkan pemerintah soal wisata premium berbeda dengan pemikiran wisatawan asing.

“Kalau dilihat dari namanya super premium memang keren tetapi kalau mau dianalisa ke belakang sebenarnya premium tidak dibutuhkan wisatawan asing,” ungkap Ignasius Kasar, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Sikka, NTT, saat ditemui Cendana News di tempat usahanya di Desa Wairhubing, Kecamatan Kangae, Kota Maumere, Minggu (13/12/2020).

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Kabupaten Sikka, NTT, Ignasius Kasar saat ditemui di tempat usahanya di Desa Wairhubing, Kecamatan Kangae, Kota Maumere, Minggu (13/12/2020). Foto: Ebed de Rosary

Ignas sapaannya, mengatakan, premium itu yang pemerintah mau dengan pembangunan yang serba mewah, padahal wisatawan tidak mencari hal tersebut. Sebab yang serba mewah sudah tersedia di negaranya.

Pemilik Blue Ocean Eco Cottage ini menjelaskan, super premium yang dicari wisatawan asing adalah bagaimana bisa melihat masyarakat memasak menggunakan kayu bakar, bagaimana masyarakat tinggal nyaman di rumah bambu atau kayu. Intinya, bisa menikmati pesona kearifan lokal.

“Bagi wisatawan Eropa ini yang ingin dilihat. Bangunan mewah itu menurut pemerintah, tetapi bagi turis kontradiktif. Mereka mau datang karena mau melihat alam  Indonesia yang tropis dan mau berinteraksi dengan masyarakat,” ungkapnya.

Ignas menjelaskan, ketika wisatawan asing melihat masyarakat bisa eksis dengan hidup yang sederhana dan ketika mereka melihat masyarakat tertawa bahagia, itulah yang super premium.

Menurutnya, wisatawan asing merasa senang melihat masyarakat tinggal di rumah sederhana, bersih dan penghuninya bahagia,  bagi orang Eropa itu yang luar biasa sekali.

“Saya pernah mengantar wisatawan mengikuti pesta dan mereka senang luar biasa, melihat pesta yang banyak dihadiri orang dan semua berbahagia. Konsep kesederhanaan ini yang tidak ada di negaranya dan suasana ini yang ingin dicari wisatawan,” ucapnya.

Ignas mengakui, sebelum pandemi Corona dalam seminggu cottage miliknya bisa dikunjungi 10 orang wisatawan asing namun setelah pandemi tidak ada kunjungan wisatawan sama sekali.

“Saya baru mulai buka tempat usaha pada bulan Oktober kemarin dan sudah mulai ada kunjungan wisatawan lokal ke Kabupaten Sikka,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Wenefrida Efodia Susilowati, pemilik home stay di Pantai Lokaria, Desa Habi, Kecamatan Kangae. Menurutnya wisatawan asing ingin mencari suasana yang berbeda yang tidak ditemukan di negaranya.

Susi sapaannya mengakui, wisatawan tidak menginginkan sesuatu yang serba mewah, tetapi sesuatu yang berbeda yang tidak didapat di negaranya atau suasana lain yang berbeda, selain keindahan alam.

“Wisatawan asing yang menginap di home stay saya selalu saya libatkan dalam kegiatan memungut sampah di pesisir pantai. Mereka sangat antusias dan mengaku suasana seperti ini yang tidak mereka dapatkan di negaranya dan membuat mereka terkesan,” ungkapnya.

Lihat juga...