Maksimalkan Omzet, Pedagang di Pelabuhan Bakauheni Atur Waktu Berjualan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Situasi pandemi Covid-19 jadi salah satu faktor merosotnya pendapatan pedagang di area pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel). Sebagai solusi, sejumlah pedagang asongan yang tergabung dalam Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI) lakukan pengaturan waktu berjualan.

Samsi, ketua cabang SPRI Lamsel menyebut pengaturan waktu berjualan diterapkan sejak masa pandemi berlangsung. Sistem zonasi diterapkan sesuai area pedagang, meliputi area dermaga satu, dua hingga dermaga enam dan area terminal antar moda. Pengaturan zonasi dengan pedagang yang dibatasi shift pagi, siang dan malam bertujuan memberi kesempatan waktu yang sama bagi pedagang. Dalam kondisi normal terutama saat libur akhir pekan,libur panjang pedagang diberi kebebasan waktu berdagang. 

“Setiap zona memiliki ketua regu sehingga bisa mendata jumlah pedagang yang rata rata berjumlah puluhan orang, diatur jadwalnya sehingga tidak terjadi bentrokan waktu berdagang dan memiliki kesempatan yang sama dalam mendapatkan penghasilan,” terang Samsi saat ditemui Cendana News di pelabuhan Bakauheni, Selasa (1/12/2020).

Samsi bilang, total pedagang area pelabuhan Bakauheni yang tergabung dalam SPRI mencapai lebih dari 300 orang. Waktu yang ditentukan bisa berlaku bergantian dimana sepekan akan diatur berjualan waktu pagi, siang hingga malam.

“Pengasong sebelumnya bebas memilih waktu berjualan saat pagi hingga siang, namun dengan penjadwalan membantu agar sama rata mengalami berjualan dalam waktu berbeda,” cetusnya.

Ketua cabang Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia Lampung Selatan, Samsi, wadah bagi pedagang asongan dan warung di area pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan saat ditemui, Selasa (1/12/2020). Foto: Henk Widi

Hardini, salah satu pedagang rujak menyebut sistem shift sangat menguntungkan. Sebab semua pedagang bisa merasakan kondisi mendapatkan penghasilan kala pagi, siang dan malam. Saat pagi hingga siang dominan pengguna jasa berasal dari penumpang pejalan kaki dan kendaraan pribadi. Pada sore hingga malam didominasi penumpang bus dan truk ekspedisi.

Hardini juga ikut dalam shift berjualan sehingga bisa merasakan semua waktu berjualan. Tanpa pengaturan berjualan dan zonasi, jumlah pedagang yang mencapai ratusan bisa saling berbenturan.

“Namanya rejeki sudah diatur jadi saat jualan siang atau malam disyukuri saja berapapun hasil yang diperoleh,” bebernya.

Sahri, penyedia jasa travel di terminal antar moda Bakauheni menyebut bisa bertemu pedagang yang berbeda. Saat pagi, siang dan malam ia akan bertemu pedagang di zonasi yang telah ditetapkan.

Keberadaan sejumlah pedagang tersebut ikut membantu penumpang nyaman. Sebab penumpang dari kapal yang akan naik travel, bus kerap menunggu waktu dengan menikmati kopi dan makanan ringan.

“Semakin banyak penumpang keuntungan diperoleh penyedia travel, bus dan juga pedagang asongan,” cetusnya.

Pemilik usaha warung kuliner di dermaga dua pelabuhan Bakauheni, Jula mengaku hanya berjualan pagi hingga siang. Sebagian pedagang memilih waktu berjualan selama 24 jam dan sebagian hanya malam hari. Jumlah pelanggan yang berbeda pada waktu pagi, siang dan malam jadi penentu omzet bagi pedagang.

Lihat juga...