Manfaatkan Pekarangan Untuk Budi Daya Rempah Bumbu

LAMPUNG – Rempah-rempah berupa bumbu menjadi kebutuhan wajib dalam setiap pembuatan masakan. Bahkan, juga jamu atau herbal. Sementara budi daya tanaman bumbu cukup mudah dilakukan, sehingga banyak warga di Lampung Selatan membudidayakannya di pekarangan rumah dan di kebun.

Rudi, salah satu warga Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, menanam beragam tanaman bumbu di pekarangan rumah dan kebun, berupa lengkuas, kencur, kunyit, jahe, cabai rawit. Mudahnya budi daya tanaman bumbu dilakukan dengan kombinasi lahan pekarangan dan polybag. Tanaman bumbu bisa digunakan untuk kebutuhan keluarga dan sebagian dijual.

“Berbagai jenis tanaman bumbu mudah dikembangkan. Sekali menanam bisa memperbanyak tanaman. Jenis tanaman bumbu berwujud rimpang meliputi jahe, kunyit, kencur, temulawak, lengkuas, bisa diperbanyak dengan mudah. Perbanyakan vegetatif memakai akar rimpang memudahkan memperbanyak tanaman,” terang Rudi, saat ditemui Cendana News, Senin (21/12/2020).

Lengkuas digunakan sebagai bumbu oleh Suyatinah, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, sebagian dijual ke pengepul tanaman bumbu, Senin (21/12/2020). -Foto: Henk Widi

Rudi menjelaskan, sebagian tanaman bumbu yang dikembangkan dengan memakai biji dibeli dari toko pertanian, agar mendapatkan bibit berkualitas, seperti jenis cabai caplak, cabai rawit, dengan proses penyemaian lalu dipindah ke polybag untuk memudahkan perawatan.

Menurut Rudi, budi daya tanaman bumbu memiliki manfaat ganda. Sebagian tanaman yang dibudidayakan di lahan sekaligus menjaga estetika pekarangan rumah. Kebutuhan bumbu yang kerap harus membeli di pasar, bisa diperoleh dari pekarangan lebih cepat. Saat hasil panen melimpah, pengepul bumbu membeli hasil panen miliknya. Hasil ratusan ribu rupiah bisa diperolehnya sekali panen.

Ia mengatakan, tanaman yang kerap dibeli sebagai bahan bumbu, yaitu serai, lengkuas, dan kunyit. Setiap dua pekan, pengepul tanaman bumbu akan mendatangi rumahnya. Proses pemanenan dengan menyisakan sebagian tanaman akan memberi peluang untuk tumbuhnya tanaman baru. Sekali dibudidayakan, jenis tanaman bumbu akan selalu memberi hasil.

“Kuncinya rajin memencarkan rumpun tanaman saat budi daya tanaman bumbu, agar bisa berkembang dengan baik,” terang Rudi.

Harsono, salah satu warga Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, juga membudidayakan sereh atau serai wangi. Tanaman tersebut kerap digunakan sebagai bahan pembuatan minyak wangi. Dikenal dengan nama lain vetiver, sebagian warga membuat minuman dari akar tanaman tersebut. Bagian daun tanaman tersebut, menurutnya bisa dipergunakan sebagai bahan atap bangunan.

“Budi daya tanaman akar wangi memiliki nilai ekonomis. Bibit untuk perbanyakan, satu bonggol dijual seharga Rp8.000. Pengembangan tanaman akar wangi sebagai bahan minyak terus dikembangkan. Pada tahap awal, penggunaan tanaman tersebut hanya sebatas digunakan untuk atap bangunan. Dan, bagian akar bisa dipergunakan sebagai bahan pembuatan kerajinan tangan dan hiasan, sehingga miliki nilai ekonomis tinggi,” bebernya.

Budi daya tanaman bumbu dan rempah juga dilakukan Suyatinah, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan. Jenis tanaman bumbu lengkuas sengaja ditanam di pekarangan untuk pagar. Tanaman lengkuas kerap digunakan sebagai pembatas pekarangan, sekaligus penahan longsor. Ia kerap menjual tanaman tersebut kepada pengepul bumbu dapur bersama jenis tanaman lain.

Jenis tanaman bumbu yang disediakan Suyatinah meliputi lengkuas, kunyit, sereh, kencur dan temulawak. Harga di tingkat petani untuk berbagai jenis tanaman bumbu berkisar Rp3.000 hingga Rp7.000 per kilogram. Setiap rumpun tanaman lengkuas bisa menghasilkan belasan kuintal rimpang.

“Berbagai jenis tanaman bumbu masih berlebih untuk kebutuhan sendiri, sehingga sebagian dijual,” terangnya.

Sistem budi daya tanaman bumbu, sebutnya, menerapkan tumpang sari. Sistem tersebut dilakukan untuk menghasilkan berbagai jenis tanaman bumbu dalam satu hamparan. Perawatan mudah dilakukan, dengan penambahan pupuk kompos dan pupuk kandang.

Lihat juga...