Masa Pandemi Penurunan Ekspor Lebih dari 50 Persen

SOLO – Pemerintah Kota Surakarta menyatakan penurunan ekspor komoditas selama pandemi COVID-19 mencapai lebih dari 50 persen seiring dengan penurunan permintaan dari negara tujuan.

Berdasarkan data dari Dinas Perdagangan Kota Surakarta yang dikeluarkan di Solo, Minggu, volume ekspor semester dua mengalami penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan semester satu.

Dinas Perdagangan Kota Surakarta yang melayani dokumen resmi pengantar ekspor untuk beberapa wilayah di Jawa Tengah menyatakan, salah satunya untuk volume ekspor komoditas hasil hutan pada semester satu tahun ini senilai 486.359 dolar AS.

Angka tersebut mengalami penurunan pada periode Juli-Oktober 2020 yang hanya sebesar 76.109 dolar AS. Selanjutnya, untuk volume ekspor komoditas hasil industri mencapai 4.034.626 dolar AS pada periode Januari-Juni dan turun pada periode Juli-Oktober sebesar 2.022.929 dolar AS.

Kepala Seksi Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Kota Surakarta, Nanang Dwi Arnanto, mengatakan jika dilihat dari jumlah dokumen yang masuk ke instansi tersebut, juga terjadi penurunan yang cukup signifikan selama pandemi COVID-19.

“Ada salah satu perusahaan tekstil besar di Soloraya, jika di saat normal untuk satu minggunya mereka bisa mengajukan hingga 15 dokumen dan saat ini rata-rata satu minggu satu dokumen,” katanya.

Ia mengatakan dokumen tersebut merupakan surat pengantar ekspor yang di antaranya berisi Negara tujuan, nilai produk yang dikirimkan, dan jenis produk. Secara keseluruhan, jika sebelumnya dalam satu hari pihaknya bisa mengeluarkan sebanyak 100 dokumen untuk saat ini hanya di kisaran 50 dokumen.

“Sebetulnya, target kami tahun ini bisa mengeluarkan hingga 20.000 dokumen, tetapi sampai saat ini baru sebanyak 12.000 dokumen yang keluar. Untuk tahun lalu dokumen yang keluar mencapai 22.000 dokumen,” katanya.

Menurut dia, selain mengalami penurunan jumlah dokumen, untuk nilai produk yang dikirimkan juga mengalami penurunan.

“Saat ini satu dokumen nilai ekspornya di kisaran Rp1 miliar, kalau dulu bisa sampai Rp5-10 miliar,” katanya. (Ant)

Lihat juga...