Masyarakat Keluhkan Rusaknya Lingkungan di Pesisir Bakauheni

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Panas dan kesan hijau lenyap dari sebagian wilayah pesisir Lampung Selatan, tepatnya di sebagian pesisir Bakauheni. Kesedihan pun terbersit di wajah Eko Prapto, warga Dusun Sukarame, Desa Bakauheni. Sebagian besar vegetasi mangrove di kawasan itu telah rusak, yang menurutnya terjadi karena aktivitas reklamasi oleh pengembang yang akan membangun tempat sandar kapal.

Eko Prapto mengatakan, kerusakan imbas pembukaan akses jalan menebang dan memusnahkan vegetasi tanaman pesisir. Vegetasi mangrove jenis apiapi, sentigi, prepek, ketapang, tumbang oleh alat berat. Namun, ia dan warga lain tak bisa berbuat banyak.

Kerusakan vegetasi mangrove oleh aktivitas pembangunan telah terjadi. Niat melindungi vegetasi mangrove di sejumlah titik sirna, karena ketidakberdayaan warga. Meski aktivitas pembangunan akhirnya distop oleh Pemerintah Daerah Lamsel melalui instansi terkait, kerusakan terlanjur terjadi. Hanya tersisa sebagian vegetasi mangrove, yang di antaranya rawan penjarahan.

Eko Prapto, warga Dusun Sukarame, Desa Bakauheni, Lampung Selatan, memperlihatkan berbagai jenis tanaman pesisir didominasi sentigi dan mangrove yang sebagian telah rusak oleh aktivitas penjarahan, Rabu (16/12/2020). -Foto: Henk Widi

“Bonggol atau akar tanaman sentigi banyak diangkut keluar wilayah untuk dijadikan sebagai bonsai, padahal sebelumnya vegetasi pesisir dilindungi, dan warga mendapat larangan melalukan perusakan, kini hanya bisa melihat pantai yang menyisakan sedikit tanaman untuk warga berteduh saat mencari ikan,” terang Eko Prapto, Rabu (16/12/2020).

Aktivitas warga pesisir, sebutnya, masih kerap dilakukan dengan memancing. Sebagian nelayan yang mengandalkan muara sungai untuk menyandarkan perahu harus memilih lokasi lain. Tersisa sedikit vegetasi mangrove dari semula belasan hektare sepanjang pesisir Tanjung Tuha hingga ke Pegantungan. Meski sebagian telah kembali tumbuh, potensi terjadi abrasi membahayakan permukiman.

Lukman dan Sahuri, pencari ikan di pesisir Bakauheni, menyebut penyebab kerusakan lingkungan dominan faktor manusia. Pembangunan tanpa memikirkan aspek lingkungan dan keberlanjutan membuat pantai kerap diubah dari fungsi awal. Rimbunnya tanaman mangrove yang telah tumbuh alami puluhan tahun, rusak hanya dalam waktu beberapa bulan.

“Warga yang akan mencari ikan mengalami kesulitan karena sebagian rumpun mangrove merupakan lokasi persembunyian ikan,” cetusnya.

Mencari ikan dengan teknik menjaring dan memasang bubu, masih menjadi cara yang dipertahankan warga. Lukman mengaku kerap menambatkan perahu pada akar pohon bakau. Selain itu, pengikatan jaring memanfaatkan tanaman bakau. Namun sejak sebagian tanaman bakau lenyap, ia kesulitan. Saat musim angin timur dan selatan, kerusakan di permukiman oleh angin kencang makin terbuka.

Perubahan lingkungan pesisir pantai Bakauheni, juga mempengaruhi sistem pertambakan tradisional setempat. Sulistio, petambak udang vaname, menyebut proses pembongkaran tanaman mangrove terjadi sejak awal 2019. Sebelumnya, mangrove terlihat menghijau di wilayah tersebut. Namun, penimbunan dilakukan untuk tempat sandar perahu oleh sebuah perusahaan.

“Saluran irigasi untuk memasok air di lahan tambak, ikut terganggu. Semula, keberadaan mangrove bisa menjadi penyaring kondisi air. Namun, kini air laut langsung mengalir ke kanal yang telah disediakan. Perubahan tersebut mempengaruhi tingginya kadar salinitas air pada tambak. Namun, nasi terlanjur menjadi bubur, mangrove telah rusak, “ kata  Sulistio.

Warga hanya berharap, bencana oleh gelombang pasang dan angin kencang tidak merusak permukiman imbas benteng alam mangrove musnah. Sebagian warga yang memiliki lahan menghadap laut, memilih menanam tanaman kayu. Berbagai jenis tamanan kayu dipergunakan untuk mengantisipasi terjadinya potensi bencana tsunami, angin kencang dan banjir rob.

Lihat juga...