Mendoan Khas Banyumas, Hidangan Favorit Sepanjang Masa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Mendoan merupakan makanan yang paling bertahan di tengah pandemi Covid-19. Sebab, bagi orang Banyumas, makanan mendoan yang terbuat dari tempe tipis dan diberi balutan tepung sudah menjadi makanan khas yang tak pernah bosan dinikmati setiap hari.

Hidangan mendoan tidak hanya dinikmati sebagai camilan saja, tetapi juga kerap menjadi lauk untuk makan. Bahkan banyak orang yang mengaku sangat nikmat meskipun hanya makan nasi dengan mendoan dan sambal saja. Sebagai camilan, hidangan mendoan cukup dilengkapi dengan cabai rawit atau sambal kecap saja.

Alhasil, penjualan tempe mendoan tetap laku keras di tengah pandemi Covid-19. Tempe mendoan berbeda dengan tempe pada umumnya.

Tempe tersebut memang dibuat khusus, dengan lapisan lebih tipis dan hanya terdapat dua potong tempe pada tiap bungkusnya. Sehingga jika membeli tempe mendoan, cukup 5 bungkus sudah mendapatkan 10 biji mendoan.

Bahkan untuk tempe mendoan yang berukuran besar, bisa dipotong menjadi dua bagian, sehingga satu bungkus bisa menjadi 4 biji mendoan.

Selain bahan baku tempenya lebih tipis, cara memasaknya juga sedikit berbeda dengan tempe biasa. Tempe mendoan dimasak digoreng sebentar saja dan diangkat saat masih mendo atau setengah matang.

“Namanya mendoan, pasti menggorengnya mendo, tidak sampai kering. Kalau bumbunya sama dengan tempe biasa, yaitu bawang putih, ketumbar dan garam dihaluskan. Kemudian dicampurkan dengan tepung terigu dan tepung beras dengan komposisi ukuran yang sama. Jangan lupa diberi irisan daun bawang,” kata salah satu penggemar tempe mendoan, Hervina, Sabtu (12/12/2020).

Tempe mendoan banyak dijual di pasar-pasar tradisional di Kabupaten Banyumas. Bahkan semua penjual sayur keliling, juga pasti dilengkapi dengan dagangan tempe mendoan.

Salah satu penjual tempe mendoan di Pasar Wage Purwokerto, Slamet mengatakan, penjualan tempe mendoan setiap hari relatif stabil, karena orang Banyumas sangat gemar makan mendoan.

Salah satu penjual tempe mendoan di Pasar Wage Purwokerto, Slamet, dijumpai Sabtu (12/12/2020). Foto: Hermiana E. Effendi

“Walaupun pandemi Covid-19, penjualan tempe mendoan tetap stabil, selain murah dan bisa dibuat lauk untuk makan, orang Banyumas juga sangat suka dengan mendoan,” tuturnya.

Setiap hari Slamet mengaku membuat tempe mendoan dengan menghabiskan 10 kilogram kedelai dan selalu habis. Harga satu biji tempe mendoan yang berisi 2 biji cukup murah, hanya Rp 1.500.

“Pada awal pandemi dulu sempat menurun omzet penjualan tempe mendoan, karena orang-orang takut pergi ke pasar tradisional. Jadi saya siasati dengan berjualan keliling, sehingga tetap laku dan bisa bertahan sampai sekarang,” jelasnya.

Lihat juga...