Mobilitas Pengungsi Merapi di Glagaharjo Terus Dipantau

SLEMAN  – Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, memantau mobilitas warga yang mengungsi untuk menghindari dampak erupsi Gunung Merapi.

Camat Cangkringan, Suparmono, di Sleman, Minggu, menjelaskan bahwa pemantauan pergerakan pengungsi dilakukan untuk meminimalkan risiko penularan virus corona penyebab COVID-19 di tempat pengungsian Glagaharjo.

“Pengawasan terhadap mobilitas pengungsi dewasa dilakukan oleh Gugus Tugas COVID-19 Glagaharjo,” katanya.

“Pengungsi kelompok dewasa ini memiliki aktivitas yang cukup tinggi, jadi kami mengantisipasi dengan melakukan pengawasan terhadap mereka. Setiap ada pengungsi yang selesai beraktivitas dan kembali ke barak pengungsian maka akan dilakukan penanganan sesuai SOP protokol kesehatan,” ia menambahkan.

Menurut Suparmono, saat ini jumlah warga kawasan Merapi yang mengungsi di Glagaharjo sebanyak 225 orang, yang terdiri atas 11 pria dewasa, 51 perempuan, 27 pria dan 47 perempuan lanjut usia, serta anak-anak dan penyandang disabilitas.

“Sedangkan ternak sapi yang diungsikan di kandang penampungan ada sebanyak 166 ekor yang terdiri atas sapi perah dan sapi pedaging,” katanya.​​​​​​

Ia menuturkan bahwa sebagian warga laki-laki dewasa yang tinggal di tempat pengungsian setiap hari harus mengurus ternak yang diungsikan di lapangan Desa Glagaharjo.

“Mereka ini kan tetap harus menjaga dan mengurus ternaknya, seperti memberi pakan setiap hari. Selain itu peternak sapi perah juga tetap melakukan aktivitasnya seperti memerah dan menyetorkan susu sapi ke koperasi. Jadi aktivitas ekonomi tetap berjalan,” katanya.

Sementara itu, perempuan dewasa yang mengungsi umumnya tinggal di tempat pengungsian serta mengurus anggota keluarga yang tergolong dalam kelompok rentan.

“Mereka ini merupakan ibu-ibu yang memiliki balita atau anak-anak. Selain itu juga mendampingi orang tua atau kakek/neneknya di barak pengungsian,” katanya. (Ant)

Lihat juga...