Musim Penghujan, Gerakan Kebersihan di Sikka Harus Dimaksimalkan

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Memasuki musim hujan yang mulai intens sejak akhir November 2020 di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) di beberapa wilayah terjadi genangan air dan sampah berserakan usai terjadi hujan lebat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, meminta agar masyarakat melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan melakukan aksi bersih-bersih guna memutus mata rantai penyebaran demam berdarah.

“Untuk mengatasi Demam Berdarah Dengue (DBD) maka harus dilakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan melakukan gerakan kebersihan massal secara rutin,” kata Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus saat ditemui Cendana News di kantornya, Rabu (23/12/2020).

Kepala Dinas Kesehatan Sikka, Petrus Herlemus saat ditemui di kantornya, Rabu (23/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Pihaknya mengimbau agar PSN dan Pemberantasan Jentik Nyamuk (PJN) harus berjalan maksimal  sehingga kasus demam berdarah tidak terjadi.

Ia menjelaskan, pihaknya sudah membentuk Sahabat Sehat dimana satu Tenaga Kesehatan (Nakes) mengawasi 50 rumah di wilayah kerja mereka terkait kebersihan dan jentik nyamuk.

Ditambahkannya, jentik nyamuk harus dicek sehingga bisa diketahui Angka Bebas Jentik (ABJ) nya dan kalau desa memperkuat dengan tenaga kesehatan di desa maka setiap 5 hari bersama Nakes di Puskemas akan sama-sama turun mengecek ABJ.

“Kalau satu gerakan besar dilakukan maka selama 6 bulan ABJ nya 100 persen sehingga kita bisa eliminasi demam berdarah.Kebersihan rumah dan lingkungan harus selalu terjaga agar terhindar dari DBD,” ujarnya.

Menurut Petrus, yang jadi persoalan saat ini, ada generasi nyamuk berikutnya sudah ada virus sebab ketika induknya bervirus maka telurnya bervirus dan bukan menunggu sampai nyamuknya dewasa dulu.

Selain itu tambahnya, gigitan nyamuk demam berdarah juga bukan hanya siang hari tetapi sekarang sudah malam sebab perilaku nyamuknya sudah berubah.

Dia memaparkan, Kecamatan Magepanda ABJ 85 persen dan ada satu dua kasus DBD di bulan Desember 2020 namun Nakes langsung turun melakukan aksi sehingga ABJ menurun dan kasusnya mulai hilang.

“Kontribusi terbesar penyakit DBD ada di 3 kecamatan terbesar di kota yakni Alok, Alok Barat dan Alok Timur disusul Nita, Waigete dan Magepanda. Kami sudah lakukan rapat mengatasi DBD Senin dua hari lalu,” paparnya.

Sementara itu dr. Asep Purnama, pemerhati demam berdarah dan malaria mengatakan, kunci utama pemberantasan DBD terletak pada kesadaran masyarakat menjaga kebersihan.

Asep menyebutkan, saat musim hujan air akan tergenang di saluran, kolam dan wadah-wadah lainnya seperti botol, gelas plastik dan lainnya sehingga semua wadah yang berpotensi menjadi tempat air tergenang harus dibuang atau dikubur.

“Air tergenang merupakan wadah tempat nyamuk demam berdarah bertelur dan berkembang biak. Makanya harus rutin dilakukan aksi membersihkan rumah dan lingkungan termasuk membuang atau mengubur wadah yang bisa membuat air tergenang,” pesannya.

Lihat juga...