Musim Penghujan, Petani Anggur Bantul Waspadai Serangan Hama Lalat Buah

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Sejumlah petani di kampung anggur Plumbungan, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta mengeluhkan serangan hama lalat buah yang menyerang tanaman mereka. Serangan mengakibatkan kebusukan pada anggur mereka.

Salah seorang petani anggur, Tono, menyebut munculnya serangan hama lalat buah itu terjadi sejak beberapa waktu terakhir, menyusul semakin tingginya intensitas hujan di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, terhitung semenjak akhir bulan November kemarin.

“Sejak musim hujan ini banyak hama lalat buah yang menyerang. Karena memang saat musim penghujan hama lalat buah berkembangbiak dengan cepat,” katanya Senin (14/12/2020).

Akibat serangan hama lalat buah tersebut, anggur milik para petani diketahui rusak, meski telah siap panen. Persentasi kerusakan diperkirakan mencapai 30–40 persen, sehingga cukup merugikan para petani.

“Untuk mengatasinya sebenarnya bisa dilakukan dengan dua cara. Yakni dengan cara disemprot menggunakan cairan pestisida, maupun dengan cara alami. Untuk menjaga kualitas buah anggur agar tetap sehat saat dikonsumsi, saya sendiri menggunakan cara kedua,” katanya.

Tono sendiri mengaku memanfaatkan jebakan hama pengganggu tanaman yang ia buat sendiri menggunakan lem serangga. Memanfaatkan botol minuman bekas, perangkap hama lalat buah tersebut di sejumlah titik lokasi tanaman, dimana buah anggur berada.

“Perangkap ini cukup efektif mengatasi hama lalat buah. Walaupun memang tidak secepat ketika memakai pestisida. Namun kelebihannya, buah anggur yang dihasilkan lebih sehat untuk dikonsumsi karena steril dari cairan kimia,” jelasnya.

Selain hama lalat buah, para petani anggur di Bantul ini juga mewaspadai serangan jamur akar yang biasa muncul saat musim penghujan seperti sekarang ini. Pasalnya jamur yang menyerang akar hingga mengakibatkan pembusukan biasa terjadi di kondisi tanah yang terlalu lembab dan becek.

“Karena pada dasarnya anggur merupakan tanaman yang suka panas. Sehingga tidak tahan pada kondisi tanah yang terlalu basah. Untuk mengantisipasinya biasanya saat awal penanaman, tanah atau media tanam harus dicampur dengan pasir agar menjadi poros atau mampu menyerap air dengan cepat,” bebernya.

Selain menjual buah anggur dalam bentuk konsumsi, para petani anggur di kampung anggur Plumbungan sendiri juga biasa menjual bibit anggur kepada para tamu pengunjung/wisatawan baik offline maupun online. Meski untuk jumlah tamu pengunjung menurun drastis selama pandemi, petani mengaku penjualan bibit anggur justru meningkat selama musim penghujan ini.

“Sejak adanya pandemi Covid-19, memang tamu pengunjung menurun drastis. Tapi alhamdulillah, untuk penjualan bibit baik cangkok maupun stek masih stabil. Malah semakin meningkat saat musim penghujan ini. Khususnya untuk pembelian secara online,” pungkasnya.

Lihat juga...