Nasi Akeul Khas Kranggan yang Menggugah Selera

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Mempertahankan tradisi di Kranggan, tidak hanya sebatas budayanya saja. Tapi, hingga cara menanak nasi pun tetap bisa ditemui di wilayah setempat. Seperti ditemui di salah satu rumah tetua di wilayah Kranggan Kulon, Jati Raden tepatnya di rumah Abah Samit Enjong, di Kranggan Kulon, Jatiraden, Jatisampurna, kota Bekasi Jawa Barat. Hingga kini masih mempertahankan cara masak khas tradisional tataran Sunda itu, dengan tetap menggunakan kayu bakar.

Emak Ami, Sabtu (19/12/2020), mengakui masak nasi Akeul setiap waktu di rumahnya. Hal itu karena Abah Samit, tidak mau makan nasi yang di masak menggunakan colokan listrik. Foto: Muhammad Amin

Keluarga tersebut masih menggunakan alat tradisional khas Sunda yang digunakan untuk menanak nasi, yang dinamakan boboko. Dimana beras yang sudah dicuci bersih akan dimasukkan ke dalam boboko yang kemudian dimasukkan ke dalam langseng berisi air.

Proses memasaknya juga tidak menggunakan kompor gas atau kompor minyak tanah tapi menggunakan kayu bakar. Setelah masak nasinya pun dihidangkan dengan tempat nasi di atasnya ditutup daun pisang.

“Kami selalu menanak nasi dengan kayu bakar, istilah sundanya nasi Akeul, karena Abah, tidak bisa makan nasi yang ditanak menggunakan kompor gas ataupun colokan listrik itu,” ujar Emak Ami, kepada Cendan News Sabtu (19/12/2020).

Nasi Akeul, akan lebih terasa dihidangkan saat hangat, dan dimakan dengan menu pecak ikan. Bahkan sama ikan asin dan sambal terasi pun tetap menggugah selera karena nasinya pulen dan enak.

Menurut Emak Ami, proses masak nasi Akeul, memerlukan waktu khusus karena harus dijaga dari proses awalnya seperti air secukupnya di panaskan lebih dulu, setelah mendidih baru di masukkan beras yang sudah dibersihkan.

Lihat juga...