Nataru di Maumere, Sembilan Hal Perlu Diperhatikan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Penyebaran virus Corona yang masih terjadi dan adanya beberapa kasus positif Covid-19 termasuk meningkatnya kasus transmisi lokal, membuat perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) di gereja-gereja Katolik di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap menerapkan protokol kesehatan.

Uskup Keuskupan Maumere dalam seruan pastoral terkait perayaan Natal dan Tahun Baru mengeluarkan 9 langkah yang harus laksanakan oleh segenap umat dan biarawan serta biarawati agar mentaati berbagai hal guna mencegah penularan virus Corona.

“Pertama, seluruh aktivitas baik persiapan rohani maupun jasmani dalam rangka Hari Raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2020 tetap memperhatikan protokol kesehatan,” tegas Uskup Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Pr dalam surat yang diterima Cendana News, Minggu (20/12/2020).

Kedua, imbau Uskup Edwald sapaannya, seluruh aktivitas pelayanan sakramen dan sakramentalia tetap memperhatikan Pedoman Umum Protokol Pelayanan Ibadat dan Sakramen dalam Misa New Normal Keuskupan Maumere yang telah ditetapkan pada 24 Juni 2020.

Ketiga, lanjutnya, demi menghindari terlalu banyaknya umat yang berkumpul pada saat upacara peribadatan atau Perayaan Ekaristi pada hari-hari raya, maka perayaan Ekaristi dirayakan minimal 2 kali pada satu tempat ibadat dengan tetap memperhatikan dan mematuhi protokol kesehatan.

“Keempat, perayaan yang terjadi pada sore hari, yakni pada Malam Natal (24 Desember 2020) dan Malam tutup Tahun (31 Desember 2020) sebaiknya dirayakan dua kali pada Pukul 16.30 WITA dan 18.30 WITA,” imbaunya.

Kelima, pinta Uskup Edwald, untuk memperlancar penerapan protokol kesehatan baik di rumah ibadat maupun di tempat-tempat pertemuan rohani lainnya disiapkan fasilitas kesehatan berupa tempat cuci tangan, hand sanitizer dan lainnya.

Dia meminta agar ada petugas yang disiapkan guna membantu penerapan protokol kesehatan dan bekerja sama dengan Tim Gugus Tugas Covid- 19 di wilayah setempat.

Keenam, sambungnya, demi menjaga ketertiban dan keamanan perayaan, maka perayaan misa yang terjadi baik pada pagi, siang maupun sore hari dilengkapi dengan petugas keamanan dari kalangan orang muda dan organisasi rohani yang telah disiapkan secara baik, serta bekerja sama dengan petugas keamanan setempat.

“Ketujuh, umat yang merayakan misa dipastikan sehat, tidak sedang sakit. Yang sedang sakit batuk, pilek, sakit tenggorokan, gangguan pernapasan sangat dianjurkan untuk merayakan peribadatan dari rumah melalui media komunikasi yang ada atau merayakan ibadat di rumah dengan teks ibadat yang disiapkan,” harapnya.

Kedelapan, sebut Uskup Edwald, anak-anak yang mengikuti perayaan peribadatan mesti tetap berada dalam pengawasan orang tuanya serta memberian berkat untuk anak-anak ditiadakan.

Kesembilan, tutupnya, umat yang baru datang dari luar daerah atau pulau dalam hari-hari menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru ini diharapkan melaporkan diri pada pimpinan wilayah setempat (RT/RW/Desa/Kelurahan).

“Setelah melaporkan diri, mereka harus melakukan isolasi mandiri selama kurang lebih 14 hari demi memutus mata rantai penyebaran virus corona,” sarannya.

Sementara itu, Patrisius Regi, salah seorang warga yang ditemui di Gereja Katolik Centrum Maumere, meminta, agar disiapkan tenda di luar gereja untuk mengantisipasi adanya penambahan umat atau memperbanyak misa.

Patris sapaannya mengatakan, dengan adanya tenda maka umat yang tidak mendapatkan tempat duduk di dalam gereja bisa duduk di luar gereja dengan kursi yang diatur jaraknya sesuai protokol kesehatan.

“Tenda dibangun untuk mengantisipasi lonjakan umat yang datang meskipun misa sudah dijadwalkan berlangsung sebanyak 2 dan 3 kali saat Natal dan Tahun Baru,” harapnya.

Lihat juga...