Orang Tua Murid Nilai PJJ Kurang Efektif

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BANDUNG — Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal dalam proses pendidikan anak. Termasuk peran orang tua yang semakin penting, setelah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) diberlakukan.

Wiwin Winaningsih (34), Ibu Rumah Tangga asal Desa Ancol Mekar, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, mengaku tidak ingin membiarkan anaknya mengandalkan pembelajaran daring saja. Ia pun mengambil alih peran guru di rumah dengan memastikan waktu belajar sama dengan di sekolah.

“Saya ada dua anak, SD (perempuan) dan SMA (laki-laki). Setiap pagi sampai dzuhur mereka saya minta harus belajar. Saya mengontrol penuh waktu mereka,” kata Wiwin saat ditemui di kediamannya, Kamis (31/12/2020).

Menurut Wiwin, PJJ sangat tidak optimal jika tidak didampingi oleh orang tua. Sebab, anak-anak kerap menggunakan waktu belajar justru untuk bermain game online dan sebagainya.

“Sebetulnya walaupun didampingi, tetap saja PJJ ini kurang efektif, apalagi kalau tidak didampingi,” tandasnya.

Wiwin Winaningsih memperlihatkan hasil kerajinan tangan bersama anaknya yang dibuat selama masa pandemi, Kamis (31/12/2020) di Desa Ancol Mekar, Kabupaten Bandung. Foto Amar Faizal Haidar

Selain memberi pendampingan belajar, Wiwin juga kerap mengajarkan anak-anaknya dalam membuat kerajinan tangan, seperti memanfaatkan bahan bekas menjadi bunga yang cantik. Menurutnya, itu merupakan salah satu strategi mengasah kemampuan dan keterampilan anak.

“Ya mumpung anak lebih banyak di rumah dan kebetulan saya bisa ada kemampuan bikin kerajinan tangan, saya ajarkan juga ke anak. Jadi kita sebagai orang tua harus pintar-pintar mendampingi mereka di rumah. Itu usaha yang paling bisa kita lakukan,” jelasnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Popon. Menurutnya PJJ telah membuat semangat anak dalam belajar menurun drastis. Jika tidak diberi pendampingan secara ketat, anak tidak akan belajar.

“Saya sih berharap sekolah normal bisa segera dibuka lagi. Kita orang tua tidak bisa seratus persen menemani anak,” pungkas Popon.

Namun meski demikian, Popon juga mengaku khawatir jika belum ada kepastian pelaksanaan protokol kesehatan di sekolah. Pasalnya, itu sangat membahayakan anak.

“Pokoknya yang terbaik aja. Kalau mulai sekolah lagi, semoga guru-guru bisa mengatur bagaimana baiknya, biar aman dan tidak bawa penyakit,” pungkas Popon.

Lihat juga...