Pandemi Sebabkan Ponpes Al-Fath di Bekasi Kesulitan

Editor: Koko Triarko

K.H Ahmad Taupik, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fath Jakasetia, Bekasi Selatan, ditemui Cendana News, Kamis (10/12/2020). –Foto: M Amin

BEKASI – Pandemi Covid-19 membuat pondok pesantren Al-Fath di RT05/18, Kelurahan Jakasetia, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, mengalami kesulitan pembiayaan, mengingat pesantren ini bergerak di bidang sosial.

“Secara keuangan sangat menyusut, dari sisi donatur yang membantu mengalami kendala. Begitu pun santri dari yang sebelumnya mampu bayar penuh menjadi separo, sementara operasional gaji guru, listrik tetap berjalan,” ungkap KH. Ahmad Taupik, ditemui Cendana News, Kamis (10/12/2020).

Diakuinya, bahwa Ponpes Al-Fath Jakasetia merupakan perpaduan antara sitem pendidikan modern dan salafiyah, yang bernaung di bawah Dinas Pendidikan, bukan Kementerian Agama. Artinya, selama pandemi mengikuti aturan Diknas dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ), dan akan kembali menerapkan tatap muka kemungkinan pada Januari 2021.

Menurutnya, sudah 7 bulan Ponpes tidak melaksanakan pembelajaran tatap muka. Semua santri dipulangkan, sehingga pembiayaan lebih tinggi beban gaji guru, internet dan lainnya. Meskipun diakuinya ada bantuan dari pemerintah.

“Imbasnya sangat dirasakan banyak kalangan pondok pesantren, majelis taklim dan panti asuhan di berbagai daerah, tak hanya di sini saja sebenarnya” kata KH Taupik.

Lebih lanjut dikatakan, Ponpes Al-Fath, sejak 2012 sudah memiliki sekolah tingkat SMP hingga jenjang SMK jurusan Teknik Komputer Jaringan. Sehingga menginduk ke Diknas, meski konsepnya pesantren.

Alasannya, pendidikan SMP/SMK di Diknas pelajaran lebih sedikit dibanding Kemenag. Jika menginduk ke Kemenag, ada pelajaran quran-hadis, tafsir dan fiqih. Di Ponpes Al-Fath digabungkan antara modern dan salafiyah, meniru Pesantren Gontor, tetap ada pendalaman bahasa Inggris dan Arab.

“Dikatakan salafiyah atau pesantren tradisional, karena kita dalam pembelajaran kitab banyak merujuk kitab salaf, seperti Arab gundul dan kitab dahulu, dan ada santri khusus menghafal Quran dan hanya membaca kitab saja” jelasnya.

Selama ini, Ponpes Al-Fath sudah banyak meluluskan alumni, yang sudah go internasional banyak yang mendapat beasiswa di Al Azhar Kairo, Yaman, Damaskus dan Syria. Di dalam negeri sendiri banyak mendapatkan beasiswa di UIN Jakarta, Bandung, Yogya dan UI.

KH Taupik mengisahkan, bahwa Ponpes Al-Fath sebenarnya sudah ada sejak 2000-an dengan awal mengontrak dua pintu di wilayah Jakasetia. Secara resmi, pada 2006 mulai berkembang dan pada 2012 memiliki SMP hingga sekarang telah ada jenjang SMK.

“Santri sekarang ada  220, meliputi TK/TPA, SMP, SMK, hampir 70 persen warga Kota Bekasi. Tapi yang nyantri ada 190-an. Sisanya mereka adalah alumni yang mengabadi sambil kuliah di berbagai perguruan tinggi,” jelasnya.

Manajemennya ada khusus untuk Panti Asuhan menangani anak yang tidak mampu, yatim, piatu, dan Dhuafa. “Meskipun saya pengasuh tidak sentralistik, karena ada pemilik yayasan. Saya hanya sebagai pengasuh ponpes,” pungkasnya.

Lihat juga...